Rintihan Pengungsi Tsunami Selat Sunda di Malam Tahun Baru

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 01/01/2019 19:29 WIB
Rintihan Pengungsi Tsunami Selat Sunda di Malam Tahun Baru Tim gabungan mengevakuasi warga di BTN Sentul, Labuan, Banten, yang rumahnya terendam banjir, Senin (31/12). (CNNIndonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekspresi wajah sedih tergambar dari para pengungsian korban bencana alam tsunami Selat Sunda, Pandeglang, Banten. Di saat sejumlah orang meniup terompet saat menyambut pergantian tahun semalam, namun mereka justru meratapi nasibnya karena menjadi tunawisma setelah hantaman gelombang tinggi pada 22 Desember 2018 lalu.

Warga yang selamat namun kehilangan rumah terpaksa berbagi atap dengan korban tsunami lain di pengungsian. Sampai pada pergantian tahun 2018-2019, mereka harus merasakan dinginnya lantai tempat mengungsi.


Deri Permana (27) saat malam pergantian tahun tak bisa merasakan hangatnya tempat tidur rumahnya. Ia terpaksa tidur beralaskan selembar karpet tipis bersama istri dan dua orang anaknya di Posko Induk Tsunami Selat Sunda Kementerian Sosial, Labuhan, Pandeglang, Banten.


Malam itu, pikirannya terusik dan matanya tak bisa terpejam, bukan karena nyamuk atau dinginnya udara malam. Ia terus memikirkan bagaimana kehidupan keluarga selanjutnya usai selamat dari bencana tsunami yang menerjang tempat tinggalnya.

Deri adalah satu dari ratusan kepala keluarga yang rumahnya hancur akibat terjangan tsunami di wilayah Labuhan, Pandeglang.

Deri bercerita sebelum bencana tsunami datang, ia dan keluarganya setiap malam tidur nyenyak di rumahnya di wilayah Kampung Karet, Desa Teluk, Labuhan. Namun, rumahnya dari hasil jerih payahnya sebagai nelayan kini telah rata dengan tanah diamuk tsunami.

'Istana' untuk berlindung yang dibangun sejak 2010 itu dalam sekejap hancur. Deri pun sadar betapa dekat jarak rumah dari bibir pantai, hanya 50 meter.

"Kemarin saya itu bertahap bangunnya, nyicil-nyicil bangunnya, sebagian-sebagian, sudah selesai, kita tempati, malah hancur," kata Deri saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Rintihan Pengungsi Tsunami Selat Sunda di Malam Tahun BaruKampung Lantera, Pandeglang, Banten, menjadi salah satu pemukiman warga yang terkena dampak terparah akibat tsunami Selat Sunda. (CNNIndonesia/Tri Wahyuni)

Deri coba mengenang peristiwa malam nan nahas itu ketika tsunami menerjang perkampungan tempat dia tinggal. Ia bercerita kala itu melihat gelombang besar berwarna putih pekat bergerak cepat ke arah pantai.

Ia menyimpulkan gelombang itu merupakan tsunami. Dengan cepat, Deri mengevakuasi anak dan istrinya untuk mengungsi ke wilayah dataran yang lebih tinggi dari bibir pantai.

"Waktu itu saya lagi nongkrong saja di dekat rumah, terus ada bunyi gemuruh dari arah laut, putih warnanya [ombak], lalu ada yang teriak 'air, air', saya langsung bawa lari keluarga saya," ucap Deri.

Deri lalu lari menjauhi pantai sampai tak terpikir membawa barang penting dari rumahnya.

Selang sehari usai bencana itu, Deri kembali guna mengecek kondisi rumahnya. Didapatinya rumah tersebut sudah dalam keadaan luluh lantak diterjang tsunami. Deri tak bisa menahan kuasa Tuhan dan harus meratapi nasibnya kehilangan tempat tinggal.

"Sementara ngungsi dulu, tahun baruan di sini [pengungsian] meski sepi," kata Deri.

Ketika CNNIndonesia.com berbincang dengan Deri, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB, artinya tahun 2018 telah berganti memasuki tahun 2019.

Deri lantas menaruh harapan tersendiri saat memasuki tahun baru ini. Ia meminta agar pemerintah mau membantu meringankan beban untuk mendirikan rumahnya yang hancur akibat tsunami.

"Saya mau punya rumah lagi di tahun baru ini, semoga bisa dibantu saja," ucap Deri penuh harap.

Deri menyatakan usai bencana tsunami, pemerintah belum pernah melakukan sosialisasi mengenai ganti rugi rumah warga yang hancur akibat tsunami. Melihat hal itu, ia mengaku hanya bisa pasrah dan menunggu bantuan dari pemerintah agar rumahnya bisa ditempati kembali seperti sediakala.

"Saya mah nunggu saja, jika belum, saya tetap di pengungsian dulu," imbuh Deri dengan nada pelan.

Kejadian serupa menimpa Suryana (26). Ia mengatakan bahwa rumah petak yang turut berada di kawasan Kampung Karet, Desa Teluk, Labuhan turut hancur dihantam tsunami Selat Sunda.

Suryana mengaku jarak rumahnya dengan bibir pantai lebih pendek lagi, sekitar 20 meter. Senada dengan Deri, Suryana mengaku sedih selain bingung setelah bencana tsunami. Ia pun harus berada di pengungsian dan tak pernah tahu kapan bisa kembali memiliki rumah. Harapan satu-satunya adalah uluran tangan pemerintah.

"Pingin punya rumah lagi, kalau enggak punya rumah sedih, saat ini kami belum ada omongan itu [soal bantuan rumah]" ucap Suryana.

Rintihan Pengungsi Tsunami Selat Sunda di Malam Tahun BaruAktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau telah membuat kolaps pada lereng barat daya sehingga menimbulkan gelombang tinggi dari Selat Sunda ke pesisir Banten dan Lampung, 22 Desember 2018. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Dibangun Tembok Laut

Berbeda dengan Deri dan Suryana, Arji (40), salah seorang warga Kampung Nelayan yang terletak di Teluk Labuan, Desa Cigondang, Pandeglang, Banten berharap pemerintah bisa membangun tembok laut usai tsunami menerjang wilayah tempat tinggalnya.

Arji merupakan satu dari puluhan kepala keluarga yang harus mengungsi karena rumahnya telah rata dengan tanah usai diterjang tsunami Selat Sunda. Lokasi rumah warga di kampung Nelayan di Desa Cigondang hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai.

"Selain bantuan renovasi [rumah], mungkin perlu dibangun tembok laut juga, untuk memecah ombak, dan melindungi dari tsunami" kata Arji saat ditemui CNNIndonesia.com di Teluk Labuan, Kemarin.

Arji menjelaskan sebenarnya sudah ada tembok pemecah ombak di bibir pantai yang telah dibangun pemerintah setempat sejak 1996. Namun, tembok yang awalnya hanya setinggi 2 meter itu kini sudah terkikis dan tak akan signifikan untuk memecah gelombang tsunami.

"Makanya kita berharap bisa diperkuat, ini sudah wilayah rawan tsunami soalnya," ujar Arji.

Saslimin selaku kepala RW 05 Teluk Labuan, Desa Cigondang, Labuhan merinci sekitar 86 rumah di Kampung Nelayan rata dengan tanah akibat bencana tersebut. Ia menyatakan bahwa mayoritas masyarakat yang terkena dampak tsunami di wilayah itu berat untuk direlokasi ke wilayah yang aman.

Sebab, kata dia, masing-masing warga telah memiliki tanah dan rumah sendiri di wilayah tersebut.

"Masyarakat inginnya tetap disini, mereka berat meninggalkan sini, pengen di sini aja," kata Saslimin.

Melihat hal itu, Saslimin berharap agar pemerintah bisa membangun tembok laut yang tinggi dan kokoh sebagai perlindungan bagi pemukiman warga dari tsunami.

"Pengennya 6 sampai 7 meter lah [temboknya] sudah cukup, ini harus ditinggikan lagi, ini kan udah ambruk lagi tanggul pemecah ombak, jadi pemerintah bisa membantu enggak ini?" kata dia.

(rzr/mik)