Banjir dan Tahun Baru yang 'Enggak Kerasa' di Pandeglang

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Selasa, 01/01/2019 17:55 WIB
Banjir dan Tahun Baru yang 'Enggak Kerasa' di Pandeglang Tim gabungan mengevakuasi warga di BTN Sentul, Labuan, Banten, yang rumahnya terendam banjir, Senin (31/12). (CNNIndonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lantunan doa, dzikir, dan shalawat terdengar di beberapa titik di Labuan, Pandeglang, Banten, jelang pergantian tahun. Tidak ada perayaan kali ini karena Labuan baru saja diterpa tsunami.

Hujan deras yang turun sejak siang juga seolah memaksa siapa saja untuk berada di rumah. Merayakan Tahun Baru tanpa terompet, petasan, dan kembang api. 

Namun, malam yang tenang seketika berubah menjadi mencekam bagi sebagian warga Labuan. Rumah mereka tiba-tiba kedatangan air. Banjir melanda kawasan pemukiman.

Bukan banjir semata kaki, sebetis atau selutut, air masuk ke pemukiman warga di BTN Sentul hingga mencapai atap rumah di beberapa titik. 


"Airnya naik cepat banget, tiba-tiba sudah sepinggul," kata seorang ibu yang terus merangkul anaknya yang kedinginan setelah diselamatkan tim evakuasi gabungan. 

Beruntung evakuasi cepat dilakukan. Sekitar pukul 22.30, petugas kepolisian dari berbagai satuan dan TNI dengan sigap menyelamatkan warga. 

Hanya berbekal jaket pelampung, tanpa payung, dan mantel untuk berlindung, mereka membantu warga yang terjebak karena banjir. Sesekali tubuh mereka terlihat menggigil. 

Tim evakuasi terbagi menjadi dua. Tim pertama bertugas menyelamatkan warga menggunakan perahu karet, sementara yang lainnya menunggu untuk menjemput korban dan mengantarnya ke tempat yang aman. 

"Di sini sudah biasa banjir. Kemarin tanggal 26 Desember juga begini. Banjirnya sampai satu setengah meter," kata seorang anggota Kepolisian Air dan Udara Polda Banten Polairud yang menunggu rekannya menyelamatkan warga. 

Letak Kompleks BTN Sentul yang lebih rendah dibandingkan jalan raya membuat air dengan cepat mengalir ke pemukiman padat penduduk itu. Banjir pun jadi langganan ketika hujan deras mengguyur. 

"Tapi saya tadi dapat informasi dari warga. Biasanya tidak separah ini. Dua tahun lalu enggak begini. Kata mereka ini gara-gara kapal bekas tsunami yang bikin aliran air jadi sempit," kata anggota Polairud yang lain. 

Ketinggian air dengan cepat meningkat. Tak jauh dari titik aman, mungkin hanya lima langkah saja, banjir sudah merendam paha orang dewasa. Bahkan ketinggian air hampir mencapai atap rumah. 
Banjir dan Tahun Baru yang 'Enggak Kerasa' di PandeglangWarga membantu warga yang menyelamatkan diri dari banjir. (CNNIndonesia/Tri Wahyuni)

Merayakan Tahun Baru

Hujan semakin deras. Tak ada tanda-tanda akan segera berakhir. Badan mereka basah kuyup. Sepatu pun penuh air.

Tak sadar sudah satu setengah jam tim melakukan evakuasi. Sebentar lagi pukul 00.00. Pergantian tahun akan segera datang. 

Sebagian dari mereka sadar 2019 akan segera datang, tapi sebagian lainnya bahkan tidak ingat waktu. Entah karena keasyikan atau tidak terlalu peduli dengan datangnya tahun Baru.

"Selamat Tahun Baru. Semoga sehat-sehat terus."

"Lho sudah tahun baru? Enggak terasa," kata rekannya menimpali sambil melihat jam yang melingkar di tangannya. 


Beberapa personel lainnya terlihat bersalaman dengan wajah semringah. 

Sekitar pukul 00.15 evakuasi terakhir berhasil selamat. Diantaranya ada ibu paruh baya yang membawa tongkat, dua bapak paruh baya yang membawa jeriken dan tabung gas tiga kilogram. Ada juga anak kecil yang terlihat kebasahan dan diselubungi selimut. 

"Ini tadi yang bertahan di masjid ya. Berarti sudah semua."

Proses evakuasi pun usai. Para warga diungsikan ke tempat yang lebih aman dan tim evakuasi bisa menikmati Tahun Barunya.  (sur)