Warga Terdampak Tsunami Tolak Perubahan Lokasi Relokasi

CNN Indonesia | Sabtu, 05/01/2019 15:37 WIB
Warga Terdampak Tsunami Tolak Perubahan Lokasi Relokasi Warga terdampak tsunami Selat Sunda di lokasi pengungsian. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mengusulkan lokasi relokasi warga terdampak bencana tsunami Selat Sunda di wilayah Desa Kedaton, Kecamatan Kalianda. Di lahan seluas enam hektare itu rencananya akan dibangun sejumlah rumah yang diperuntukkan khusus bagi korban tsunami.

Plt Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto mengatakan, pemilihan lokasi ditetapkan berdasarkan hasil survei tim di lapangan. Berbagai alasan jadi penyebabnya.

Sebelumnya, diusulkan agar warga terdampak tsunami direlokasi ke Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa. Namun, kondisi wilayah yang tidak memungkinkan membuat Nanang dan pihak Pemkab Lampung Selatan mempertimbangkan kembali dan menggantinya dengan wilayah lain.


Kondisi lahan Desa Way Muli memerlukan adanya pematangan lahan atau land clearing. Hal itu, kata Nanang, akan membutuhkan biaya yang cukup tinggi.

"Kalau dibangun di tempat yang sama, itu sama saja kita merencanakan pembunuhan. Makanya kita cari lokasi yang aman untuk warga, karena bencana alam ini tak bisa diduga," ujar Nanang, Jumat (4/1).

Selain itu, kawasan tersebut juga termasuk ke dalam kawasan rawan longsor yang tertera dalam Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lampung Selatan.

Sedangkan untuk hunian sementara, lanjut Nanang, pihaknya telah menyiapkan tempat di eks Hotel 56 Kalianda untuk 128 kepala keluarga dari daerah pesisir yang masuk wilayah Kecamatan Rajabasa.

"Jika dirasa memang tidak cukup, maka kami akan buatkan shelter-shelter di halaman bekas Hotel 56 Kalianda itu," tambah Nanang.

Penolakan warga
Usulan anyar terkait lokasi relokasi itu memantik respons warga terdampak tsunami Selat Sunda. Sebagian warga menolak usulan tersebut dan tak mau tinggal jauh dari desa yang telah ditinggalinya selama bertahun-tahun.

"Ya, kan, desa ini tempat kami mencari nafkah sebagai nelayan. Dan, di sini juga kami membangun. Kami ingin tetap di sini," ujar salah seorang warga Desa Kunjir, Nurlaila, saat ditemui di tenda pengungsian.

Jika pun pemerintah berencana untuk merelokasi, Laila berharap lokasi yang dipilih tak terlalu jauh dari tempat mereka sebelumnya.

"Saat Pak Jokowi datang, kami sudah bicara langsung dan mau direlokasi. Tapi tempatnya jangan jauh dari tempat tinggal kami semula, Pak Jokowi mau mendengarkan keluhan kami," ungkap Laola.

Hal yang sama juga dikatakan Bakri, warga Desa Sukaraja, yang rumahnya rata dengan tanah akibat terjangan gelombang tsunami. Dia pun menolak jika harus direlokasi ke lokasi anyar yang terbilang jauh dari Sukaraja.

"Saya, sih, setuju aja kalau mau direlokasi sama pemerintah daerah. Tapi, relokasinya ya, jangan jauh dari tempat tinggal saya sebelumnya," ujar Bakri.

Bakri dan sejumlah warga yang menolak merasa takut jika lokasi hunian yang baru membuat mereka kehilangan mata pencahariannya sebagai nelayan.

"Saya takut nanti bingung mau kerja apa kalau tempat tinggalnya jauh dari laut," kata Bakri. (zas/asr)