Ma'ruf: Tak Hanya Khilafah, Kerajaan dan Republik Juga Islami

CNN Indonesia | Senin, 07/01/2019 07:20 WIB
Ma'ruf: Tak Hanya Khilafah, Kerajaan dan Republik Juga Islami Calon wakil presiden 01 Ma’ruf Amin. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin menyebut sistem pemerintahan yang islami tidak hanya khilafah. Menurut dia, republik yang diterapkan Indonesia juga tergolong islami.

"Republik juga islami. Ada Mesir, Republik Islam Pakistan, Turki, Indonesia," ujar Ma'ruf saat memberikan tausiah kebangsaan dalam Harlah PPP ke-46 di kantor DPP PPP, Jakarta, Minggu malam (6/1).
Alasan Ma'ruf menilai sistem pemerintahan republik yang diterapkan Indonesia tergolong islami karena telah disepakati oleh para ulama sejak dulu. Menurut dia, pendiri bangsa yang di dalamnya juga termasuk para ulama, sepakat menerapkan sistem pemerintah republik.

"Termasuk juga kerajaan. Ada Kerajaan Saudi Arabia. Itu juga disetujui ulama di Arab Saudi," kata Ma'ruf.


Ma'ruf lalu mengamini bahwa sistem khilafah memang Islami. Dia merujuk dari riwayat peradaban Dinasti Abassiyah dan Ustmaniyah yang menerapkan sistem khilafah di Timur Tengah dan sekitarnya.

Akan tetapi, sistem tersebut tidak bisa diterapkan di Indonesia. Ma'ruf menjelaskan bahwa para pendiri bangsa termasuk ulama di masa silam sepakat dengan sistem republik.

Kesepakatan yang telah terbangun itu tidak bisa diganggu gugat. Bukan hanya khilafah, sistem pemerintahan ala kerajaan pun tidak dapat diterapkan di Indonesia karena tidak sesuai dengan kesepakatan para ulama dan pendiri bangsa Indonesia.
"Kenapa khilafah ditolak di Indonesia. Saya bilang bukan ditolak, tapi tertolak karena menyalahi kesepakatan," ujar Ma'ruf.

Ma'ruf lantas meminta kepada masyarakat agar terus menjaga Indonesia dengan sistem republik dan bentuk negara kesatuan. Tentu karena itu merupakan hasil persetujuan para ulama dan pendiri bangsa.

Dia berharap Indonesia tidak seperti Afganistan. Kata dia, negara tersebut sangat kaya dengan emas dan minyak. Namun, konflik tidak berhenti hingga kini.

"Tapi sekarang menjadi negara miskin karena konfliknya tidak berhenti. Bom meledak setiap jam. Mereka muslim semua. Mazhabnya Hanafi semua. Tetapi karena egonya, fanatik kelompoknya, mereka tidak bisa bersatu," kata Ma'ruf. (bmw/dea)