Peserta Kamisan Pesimistis Capres Tuntaskan Pelanggaran HAM

CNN Indonesia | Kamis, 10/01/2019 20:43 WIB
Peserta Kamisan Pesimistis Capres Tuntaskan Pelanggaran HAM Keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu Sumarsih. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peserta aksi Kamisan di Jakarta pesimistis dengan para calon presiden (capres) yang ada saat ini mau menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Sebab itu, mereka terpikir untuk datang ke bilik suara tanpa memilih salah satu kandidat.

Kamisan adalah aksi damai sejak 18 Januari 2007 dari para korban maupun keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia.

Seorang peserta Kamisan, Maria Catarina Sumarsih, ibunda dari Wawan korban Tragedi Semanggi I, menyebut Jokowi saat ini berperan dalam melindungi pelaku pelanggar HAM berat. Bagi Sumarsih dan peserta Kamisan lainnya, keberadaan mantan petinggi-petinggi militer yang dianggap bertanggung jawab atas kasus pelanggaran HAM masa lalu dan kini masuk dalam pemerintahan cukup membuktikan bahwa Presiden tidak beritikad baik menuntaskan masalah ini.


"Kalau Pak Jokowi jelas pelindung pelaku pelanggar HAM berat," tegas Sumarsih dalam refleksi Aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, Kamis (10/1).
Sementara untuk Prabowo, Sumarsih mengingatkan bahwa mantan Danjen Kopassus itu sudah pernah terlibat langsung dalam kasus pelanggaran HAM. Hal ini menyurutkan mereka dalam memilih kandidat presiden pada 17 April nanti. Dengan keadaan demikian, Sumarsih menyebut golput adalah pilihan paling mungkin. Baginya, golput merupakan cara yang tepat untuk memberi pendidkan politik.

"Kalaupun dua capres ini tidak menjadi pilihan kita, kalau menurut saya kita golput cerdas," katanya, "Datang ke TPS, coblos dua-duanya, setelah itu pulang."

Peserta lain bernama Reyhan Togi punya pendapat serupa. Mahasiswa berusia 19 tahun ini menilai kedua pasang capres tidak menawarkan harapan dalam penuntasan kasus pelanggaran HAM. Ia sangsi betul dengan memilih salah satu dari mereka akan mengubah atau bahkan memperbaiki kondisi yang ada.

"Enggak sama sekali. Mungkin masih ada harapan sedikit sih, tapi hanya sepuluh persen," kata Togi.

Aksi Kamisan yang digelar hari ini merupakan aksi yang ke-569. Sumarsih dan puluhan peserta lainnya masih setia mengenakan pakaian serba hitam, payung hitam, dan berdiri menghadap Istana Merdeka sambil membentangkan spanduk menuntut pemerintah segera menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM.

Aksi Kamisan kali ini juga menyinggung soal debat capres yang digelar pekan depan. Feni Budiman (24), salah seorang koordinator aksi, menjelaskan bahwa mereka berniat menggelar nonton bereng atau nobar debat capres.

"Kenapa ada nobar supaya mengajak orang merefleksi kembali, sebenarnya seperti apa sih orang merespons momentum pemilu, kenapa pemilu tidak menjawab apa yang menjadi problem rakyat," ujar Feni Budiman (24), salah seorang koordinator aksi.

Rencananya nobar itu akan digelar di LBH Jakarta. Nobar akan terlaksana setelah mereka mereka melaksanakan Kamisan ke-570 sekaligus tahun ke-12 sejak aksi ini pertama kali ada.
(ugo/ugo)