KontraS Ragukan Independensi Tim Khusus Kasus Novel

bmw, CNN Indonesia | Sabtu, 12/01/2019 08:58 WIB
KontraS Ragukan Independensi Tim Khusus Kasus Novel Koordinator KontraS Yati Andriyani. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Yati Andriyani tak yakin tim khusus untuk kasus Novel Baswedan yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian dapat bekerja independen.

Ketidakyakinan itu berdasarkan orang-orang yang masuk dalam tim khusus kasus Novel yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Tito merekrut 65 orang masuk dalam tim khusus kasus Novel. Mayoritas berasal dari kepolisian. Sementara orang di luar kepolisian antara lain peneliti LIPI Hermawan Sulistyo, eks Wakil Ketua KPK Indriyanto Seno Adi.


Ada juga Direktur Setara Institute Hendardi, eks Komisioner Komnas HAM Ifdhal Kasim dan Nur Kholis serta eks Komisioner Kompolnas Poengky Indarti.

Yati menyebut Direktur Setara Institute Hendardi dan peneliti LIPI Hermawan Sulistyo merupakan orang dekat Tito.

"Hendardi dan Hermawan Sulistyo itu kan penasihat Kapolri. Ada juga dari Kompolnas (Poengky Indarti)," kata Yati di kantor KontraS, Jakarta, Jumat (11/1).

Selain itu Yati juga khawatir tim khusus kasus Novel dibentuk hanya untuk membantu capres petahana Joko Widodo dalam menghadapi debat perdana pilpres bertema hukum, HAM, korupsi dan terorisme, 17 Januari mendatang.

Yati mengaku khawatir karena tim khusus itu dibentuk pada 8 Januari atau hanya sembilan hari jelang debat capres soal penegakan hukum dan HAM.

"Pembentukan hanya untuk menyiapkan jawaban saat debat capres," kata Yati.

Terpisah, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mendorong tim bekerja secepatnya menemukan penyiram air keras terhadap Novel Baswedan.

Choirul menegaskan bahwa ekspektasi publik adalah pengungkapan pelaku dan motif penyerangan.

"Indikator kecepatan kerja tim menjadi salah satu yang penting. Mengingat kasus ini telah lama ditunggu karena sudah 600 hari lebih," tutur Choirul melalui pesan singkat.

Choirul mengatakan tim bentukan Kapolri bisa bekerja cepat karena tim tersebut melanjutkan apa yang sudah ditemukan oleh tim bentukan Komnas HAM.

"Tim ini tidak bekerja dari nol," kata Choirul.

Choirul juga menekankan pentingnya akuntabilitas tim tesebut. Sebab, menurut dia, akuntabilitas dapat membuat publik percaya terhadap kerja-kerja yang dilakukannya. (wis)