Prabowo: Jangan 'Inteli' Ulama dan Mantan Presiden

CNN Indonesia | Senin, 14/01/2019 20:36 WIB
Prabowo: Jangan 'Inteli' Ulama dan Mantan Presiden Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato kebangsaan di Jakarta Convention Center (JCC), Senin malam (14/1). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto menyinggung soal pertahanan dan keamanan negara saat mengawali pemaparan visi dan misi di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (14/1) malam.

Dalam pidato awalannya, dia menyoroti soal peranan aparat penegak hukum serta aparat keamanan untuk membuat Indonesia semakin kuat.

"Negara kokoh harus memiliki lembaga pemerintah kuat yang bersih yang berintegritas," katanya. "Kita perlu hakim unggul dan jujur, kita perlu jaksa yang unggul dan jujur kita perlu polisi yang unggul dan jujur."


Tak hanya itu, Prabowo juga mengatakan Indonesia memerlukan intelijen yang tangguh.

"Kita perlu intelijen yang unggul dan setia kepada bangsa dan rakyat," katanya.

Prabowo bahkan menyindir kinerja aparat intelijen yang justru mengawasi sejumlah tokoh masyarakat.

"Intelijen itu intelin (mengawasi-red) musuh negara, jangan inteli, jangan inteli mantan presiden RI, jangan inteli mantan ketua MPR, jangan inteli anak proklamator kita, jangan inteli mantan panglima TNI, jangan inteli ulama besar kita," katanya.

Sejumlah tokoh seperti Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mantan Ketua MPR Amien Rais, Mantan Panglima TNI Djoko Santoso, dan putri proklamator RI Rachmawati Soekarnoputri mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

Kata Prabowo, sambil bercanda sebaiknya intelijen itu mengawasi dirinya. "Kalau mau intelin mantan Pangkostrad," kata Prabowo.

Selain itu, Prabowo juga mengatakan untuk menjadi negara yang kokoh, Indonesia memerlukan angkatan perang yang unggul.

"Tentara kuat tapi tentara yang setia ke rakyat, tentara yang setia, bukan mau gagah-gagahan tapi mau bersahabat," ujarnya.
(tst)