Kapolres di Sumsel yang Positif Narkotika Dicopot

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 01:21 WIB
Kapolres di Sumsel yang Positif Narkotika Dicopot Ilustrasi. (Istockphoto/D-Keine)
Palembang, CNN Indonesia -- Ajun Komisaris Besar berinisial AS telah dicopot dari jabatannya sebagai Kapolres Empat Lawang akibat urinenya yang positif mengandung narkotika saat dites di Polda Sumatera Selatan, Selasa (15/1).

Pencopotan AS dari jabatannya tertuang dalam surat telegram nomor ST/118/I/KEP/2019. AS yang menjabat sebagai Kapolres Empat Lawang sejak November 2017 digantikan Ajun Komisaris Besar Eko Yudi Karyanto yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Detasemen B Pelopor Satuan Brigade Mobil Polda Sumsel.

Surat telegram tersebut ditandatangani Asisten SDM Kapolri Inspektur Jenderal Eko Indra Heri atas nama Kapolri Jenderal Tito Karnavian.



Kapolda Sumsel Inspektur Jenderal Zulkarnain Adinegara membenarkan hal tersebut. Zulkarnain menerangkan Agus untuk sementara waktu dinonjaktifkan terlebih dulu untuk menjalani serangkaian pemeriksaan dan sidang disiplin yang tengah dihadapinya.

"Alhamdulillah dicopot. Ini tindakan tegas dalam masalah narkoba. Ini jadi contoh, jangan main-main dengan narkoba. Walapun setingkat kapolres, pasti ditindak tegas," ujar Zulkarnain.

Agus saat ini masih menjalani pemeriksaan dan akan mengikuti sidang disiplin terkait skandal yang menerpanya. Atas tindakannya, Agus terancam dipenjarakan di tempat khusus selama 21 hari karena urinenya positif mengandung amphetamine.

"Terancam sanksi lainnya yakni penundaan kenaikan pangkat. Sanksi akan ditentukan usai sidang disiplin," ujar Zulkarnain.


Sidang Disipilin

Sementara itu, Kabid Propam Polda Sumsel Kombes Didi Hayamansyah mengatakan AS bakal menjalani sidang disiplin dalam waktu dekat. Sejauh ini, katanya, AS tidak dapat membuktikan dirinya tidak mengonsumsi narkotika. Namun, penyidik Propam Polda Sumsel pun tidak bisa membuktikan amphetamine yang terkandung dalam urine AS berasal dari obat atau narkotika jenis sabu-sabu.

"Saat diperiksa, yang bersangkutan juga mengaku tidak tahu mengapa urinenya bisa mengandung amphetamine. Untuk sanksinya nanti dilihat di proses sidang disiplin," ujar Didi, Selasa (15/1).

Didi berujar, tes urine yang dijalani AS merupakan kegiatan rutin kepolisian untuk mengecek para anggota yang bertugas di bagian operasional. Namun dari 66 personel kepolisian berpangkat Komisaris Besar serta Ajun Komisaris Besar pada Jumat (11/1), hanya AS yang positif urinenya mengandung narkotika.



"Memang positif urinenya, tapi kita juga tidak bisa menemukan barang [bukti]-nya," ujar Didi. (idz/kid)