Tragedi Lengkong dan Penggalan Sajak di Saku Soebijanto

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 08:21 WIB
Tragedi Lengkong dan Penggalan Sajak di Saku Soebijanto Prabowo Subianto di pidato kebangsaan, Senin (14/1). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pidato kebangsaan Prabowo Subianto dalam tajuk 'Indonesia Menang' di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Senin (14/1), menyisakan tanda tanya bagi sejumlah pihak.

Prabowo kala itu membuka pidatonya dengan sebuah sajak. Dia mengklaim sajak itu ditemukan dalam saku seorang perwira menengah yang gugur di Banten pada 1946.

Sedetik saat Prabowo hendak membacakan sajaknya, layar besar (big screen) di belakang Prabowo berubah. Pada layar muncul ilustrasi para pejuang tempo dulu dan satu foto pejuang di sisi kanannya. Diyakini seseorang yang empunya sajak.


Sajaknya tertulis:

"Kita tidak sendirian, beribu-ribu orang bergantung kepada kita. Rakyat yang tak pernah kita kenal, rakyat yang mungkin tak akan pernah kita kenal. Tetapi apa yang kita lakukan sekarang, akan menentukan apa yang terjadi kepada mereka"

Namun siapa pejuang yang dimaksud mantan Danjen Kopassus tersebut?
Tragedi Lengkong dan Penggalan Sajak di Saku SoebijantoPrabowo Subianto. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Jika dikatakan sebuah pertempuran pada 1946, maka Prabowo merujuk pada peristiwa Lengkong, Serpong, Tangerang Selatan, Banten pada 25 Januari 1946. Pada tahun yang sama, tak ada catatan sejarah yang menggambarkan pertempuran sehebat di Lengkong.

Singkatnya, peristiwa itu menggambarkan bagaimana berondongan senjata tentara Jepang menghujani peluru ke para Tentara Rakyat Indonesia (sebelum menjadi TNI), yang dipimpin Mayor Daan Mogot saat berupaya melakukan pelucutan senjata di gudang salah satu perkebunan karet Lengkong.

Peristiwa itu diriwayatkan RHA Saleh dalam buku berjudul Akademi Militer Tangerang dan Peristiwa Lengkong (1995). Pada peristiwa itu, dua paman Prabowo Subianto, yakni Letnan Satu Soebianto Djojohadikusumo dan adiknya, Taruna Sujono, ikut tewas.

"Benar, Prabowo merujuk sajak itu ke pamannya, Soebijanto, yang gugur di peristiwa Lengkong," kata anggota Badan Pemenangan Nasional, Andre Rosiade, Rabu (16/1).

Mengutip artikel Historia berjudul Pembantaian di Perkebunan Karet' (31 Januari 2018), sejak era Hindia Belanda, Lengkong memang perkebunan karet produktif. Pada 1945, komplek perumahan para pegawai perkebunan karet ditempati satu kompi tentara Jepang yang baru saja pulang dari perang melawan tentara Amerika Serikat di palagan Pasifik.

Sajak di Saku Soebijanto

Kembali ke polemik sajak, Pendiri Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI), Heri Eriyadi menegaskan ada sajak berbeda yang diungkapkan Prabowo Subianto dalam pidato kebangsaan dengan sajak yang disebut-sebut berada dalam saku Soebijanto yang tewas dalam peristiwa Lengkong.

Sajak yang diketahui dari Lettu Soebijanto tersebut tertulis:

Kami bukan pembangun candi

Kami hanya pengangkut batu
Kamilah angkatan yang mesti musnah
Agar menjelma angkatan baru
Di atas pusara kami lebih sempurna.

"Sajak itu juga yang kemudian dituliskan pada Monumen Lengkong," kata Heri kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/1).

Diketahui, sajak yang berada di saku Lettu Soebijanto itu merupakan karya Henriette Roland Holst (1869-1952), seorang sosialis Belanda yang karyanya banyak menginspirasi para pejuang revolusi Tanah Air. Sajak itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Rosihan Anwar.

"Prabowo harus menjelaskan, KCPI coba meluruskan sejarah yang riil. Jika ada pemutaran sejarah, sama saja mengacaukan generasi yang akan datang," kata Heri.

Sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal sementara itu belum bisa menanggapi lebih dalam soal sajak Prabowo yang mengklaim berasal dari kantong seorang perwira menengah --terindikasi sajak milik Soebijanto.

"Nah, saya tidak tahu soal itu, data yang saya punya hanya ada ditemukan secarik sajak, Henriette Roland Host memang terkenal di antara pejuang kita, biasa dipanggil Tante Jet," kata JJ Rizal meluruskan.

Tragedi Lengkong dan Kontroversi Sajak Prabowo SubiantoJJ Rizal. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta)

Namun demikian, JJ Rizal mengamini bahwa Lettu Soebijanto merupakan tokoh yang memainkan peranan penting selama masa awal kemerdekaan. Terutama, yang sering dilupakan perannya dalam peristiwa Rapat IKADA 19 September 1945.

"Subijanto juga menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Akademi Militer RI pertama di Tanggerang bersama Daan Mogot, Suroto Kunto, dll," kata JJ Rizal.

JJ Rizal hanya menangkap motif penyampaian pidato kebangsaan Prabowo dengan menyinggung perjuangan pendahulunya. Menurut Rizal, hal ini tak terlepas dari momen mendekati peringatan 25 Januari 1946, di mana tragedi Lengkong tersebut terjadi.

"Tanggal itu sangat bersejarah bagi keluarganya Prabowo. Di tanggal itu pada 1946 ayahnya Soemitro Djojohadikusumo telah kehilangan dua saudaranya, yaitu Subijanto dan Sujono. Nama itu yang kemudian oleh ayahnya (Prabowo) digunakan untuk nama tengahnya, Prabowo Subijanto.

Sajak pernah diunggah Prabowo pada 2013

CNNIndonesia.com mencoba melakukan penelusuran sederhana terkait sajak yang dibacakan Prabowo. Diketahui, ternyata sajak berbunyi serupa pernah diunggah Prabowo Subianto melalui akun facebooknya.

Prabowo mengatakan, sajak itu memang benar ditulis oleh pamannya, Letnan Subianto pada hari saat seorang tukang cukur dari militer Jepang mendatangi sekolahnya. Prabowo mengatakan, sajak itu ditulis pada 1943, saat Letnan Subianto berusia 20 tahun. Prabowo tak menyebut sajak itu ada di saku 



"Menggunakan sajak ini, beliau mengajak teman-temannya untuk tidak pasrah dan melawan," tulis Prabowo Subianto, dalam akun Facebooknya, 25 Januari 2013, pukul 16.25 WIB.

(ain/gil)