Tak Sebesar Dokter, Upah Harian Yahya Juru Parkir Rp60 Ribu

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 17:56 WIB
Tak Sebesar Dokter, Upah Harian Yahya Juru Parkir Rp60 Ribu Parkir liar di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Aini Putri Wulandari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Yahya sedang mengaso di pinggir trotoar Jalan Fachrudin, kawasan Tanah Abang pada Rabu (16/1) menjelang siang. Sebatang rokok terselip di tangannya. Yahya sesekali mengisap rokoknya dalam-dalam di antara lalu lalang orang dan kendaraan.

Yahya bukan pegawai negeri yang sedang melepas lelah. Pria 27 tahun ini adalah juru parkir liar di kawasan Tanah Abang. Sebagai salah satu pusat perkulakan terbesar di Asia Tenggara, Tanah Abang memang ibarat surga bagi para juru parkir liar seperti Yahya.

Di kawasan yang terletak di Jakarta Pusat itu ada ratusan lahan parkir baik resmi maupun tak resmi. Setiap hari, para juru parkir mengandalkan hidup mereka di lahan-lahan parkir itu.


Lahan yang dikuasai Yahya adalah trotoar itu sendiri. Ia bersama lima rekannya memandu dan menjaga kendaraan yang diparkir di trotoar untuk sementara waktu. 

Siang tadi, lahan parkir Yahya dan rekannya tengah ramai. Banyak motor berjejer ditinggal pemiliknya yang sedang berbelanja atau sekadar makan. Kebetulan, lahan parkirnya berlokasi tak jauh dengan ruko dan kios pedagang makanan.

Kepada CNNIndonesia.com, Yahya dan kawan-kawan mengaku mematok tarif parkir Rp2 ribu hingga Rp6 ribu untuk setiap kendaraan. Tarif itu ditentukan lama kendaraan parkir. Tetapi bisa juga ditentukan semaunya. 

Dalam kondisi ramai, Yahya mengaku bisa mengumpulkan uang hampir Rp400 ribu. Namun uang sebanyak itu harus dibagi dengan rekan-rekannya sesama juru parkir liar.

Setelah dibagi rata, Yahya mengaku bisa mengantongi Rp60 ribu per hari dari lahan parkir liar yang ia jaga. Penghasilan itu tak menentu karena tak setiap hari Yahya bisa menjaga lahan parkir.

Dia harus bergiliran dengan teman-teman lain sesama juru parkir liar. Hal lain yang memengaruhi penghasilannya adalah keramaian pengendara.

Kata Yahya, saat sepi, penghasilannya bisa jauh di bawah Rp60 ribu. Jika ditotal, Yahya mengaku bisa mendapat sekitar Rp1,5 juta dalam sebulan dari lahan parkirnya. 

"Ya saya sih mengharap kalau hari Sabtu atau Minggu lagi ramai. Kalau bisa dikumpulin mah sebulan paling banyak Rp 1,5 juta," ujar Yahya berseloroh.

Melebihi Gaji Dokter

Pekerjaan Yahya sebagai juru parkir jadi sorotan belakangan ini karena pidato kebangsaan Prabowo Subianto di Jakarta Convention Center (JCC), Senin (14/1) lalu.

Prabowo dalam kesempatan itu menyatakan masih banyak dokter di Indonesia yang gajinya lebih kecil dari penghasilan seorang tukang parkir. 

Calon presiden nomor urut 02 itu pun berjanji membuat kebijakan yang bisa menjamin dokter dapat penghasilan layak, jika terpilih sebagai presiden RI.

Dibandingkan Dokter, Upah Harian Yahya Juru Parkir Rp60 RibuLahan parkir liar di Tanah Abang, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Aini Putri Wulandari)
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Daeng M. Faqih membenarkan apa yang disampaikan Prabowo.

Daeng Faqih mengatakan saat ini masih banyak dokter umum di daerah yang berpenghasilan di bawah Rp3 juta.

Contohnya, kata dia, dokter golongan 3A yang mengantongi gaji pokok Rp2,4 juta per bulan. Ditambah penghasilan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sekitar Rp500 ribu. Sehingga penghasilan total sekitar Rp2,9 juta.

Sementara itu Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan rata-rata gaji dokter untuk program Nusantara Sehat di Kementerian Kesehatan bisa mencapai Rp11,2 juta per bulan. Untuk dokter spesialis, kata Nila, rata-rata gaji bisa mencapai Rp30 juta per bulan.

Saling klaim antara elite tak menghapus fakta soal penghasilan para juru parkir liar yang tak menentu. Riki (28) yang juga menjadi tukang parkir liar di pasar Tanah Abang bersama tiga temannya mengaku tidak bisa mengumpulkan uang dalam waktu sebulan.

Penghasilan Riki lebih kecil dibandingkan Yahya. Dia mengaku hanya mendapat uang bersih Rp30 ribu per hari. Uangnya, kata Riki, dihabiskan untuk kebutuhannya setiap hari. 

"Kalau sehari mah kan makan, ngeroko dan lain-lain. Enggak akan pernah bisa dikumpulin kalau kita," ujarnya.

Menabung untuk Pulang Kampung

Nasib lebih baik dialami Bowo, 20 tahun, juru parkir liar di salah satu minimarket di daerah Senen, Jakarta Pusat. Dia mengaku bisa mengumpulkan uang hasil parkir untuk pulang ke kampungnya di Semarang.

Namun, jumlah penghasilan yang ia dapat pun masih di bawah gaji dokter yang sebelumnya disinggung oleh Prabowo dalam pidatonya Senin lalu.

"[Sebulan] sekitar Rp2 juta kalau ramai. Lumayan, ngumpulin buat pulang kampung. Tapi kadang juga cuma Rp1 jutaan," ujar Bowo.

Bowo mengaku sering ikut memandu di kawasan parkir liar di sekitar Stasiun Pasar Senen. Namun, katanya, petugas dari Dinas Perhubungan kini sering melakukan razia.

Agar tak terjaring razia, Bowo menyiasatinya dengan hanya membantu parkiran saat pagi hari saja. Selebihnya, Bowo memilih membantu parkiran di minimarket dekat stasiun.
(ani/wis)