Analisis

Politik Sabun Cuci Rp2 Miliar ala Jokowi

CNN Indonesia | Senin, 21/01/2019 13:01 WIB
Politik Sabun Cuci Rp2 Miliar ala Jokowi Presiden Joko Widodo menghadiri Gerakan Kawal Musim Tanam Oktober 2018-Maret 2019 di Desa Cisaat, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 19 Januari 2019. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Langkah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang memborong 100 ribu botol sabun cuci piring dan baju senilai Rp2 miliar saat kunjungannya ke Garut, Jawa Barat pekan lalu menuai reaksi publik.

Eli Liawati, salah satu pegiat UMKM sabun cuci yang diborong Jokowi itu mengaku kaget karena seorang presiden rela membeli 100 ribu botol sabun miliknya. Eli sendiri merinci bahwa satu botol sabun cuci berisi satu liter itu dihargai Rp20 ribu.

Jokowi pun tak asal bicara. Sebagai keseriusannya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu lantas memberikan uang muka sebesar Rp10 juta sebagai tanda jadi. Eli menyanggupi pesanan Jokowi itu. Ia memberi janji pesanan Jokowi itu akan dipenuhi pada akhir Februari 2019.


Peneliti senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai ada tabir citra di balik pembelian sabun cuci hingga senilai Rp2 miliar oleh Jokowi. Apalagi, jelang Pilpres 2019 capres nomor urut 01 itu butuh mendokrak elektabilitas di Provinsi Jawa Barat.

"Ya kalau soal pencitraan enggak perlu ditanya lagi. Tentu kalau sampai borong seperti itu relevansinya apa? Apalagi selain untuk mendongkrak elektabilitas di Jawa Barat. Kalau enggak ada pemilu, tukang sabun enggak laku," kata Siti saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (21/1).

Siti menilai pencitraan yang dilakukan Jokowi itu mengindikasikan baik timses maupun Jokowi sendiri sedang ketar-ketir untuk mengamankan kemenangan suara di Jawa Barat jelang Pilpres 2019.


Berkaca pada Pilpres 2014, kala itu Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla kalah di wilayah provinsi tersebut. Kala itu, berdasarkan rekapitulasi KPU, Jokowi-JK mendapatkan suara 9.530.315 atau 40,22 persen di Jabar.

Siti menilai Jokowi sedang berupaya keras agar tak menelan pengalaman pahit untuk kedua kalinya di Jawa Barat dengan melakukan pendekatan ke segmentasi masyarakat pegiat UMKM.

"Mungkin survei internalnya menunjukkan senjang elektabilitas sementara sudah saling mengejar antara 01 dan 02 di Jabar. Fluktuasi elektabilitas terjadi, sehingga jarak elektabilitas tadi membuat kubu petahana underpressure kan gitu," kata Siti.

Melihat kondisi itu, Siti beranggapan bahwa pegiat UMKM sabun cuci sengaja didekati Jokowi untuk menggarap segmentasi pemilih kelas menengah bawah di Jawa Barat.

Hal itu merupakan strategi Jokowi untuk meraih simpati sekaligus untuk memecah monopoli kekuatan pasangan Prabowo-Sandiaga di Jawa Barat pada Pilpres 2019.

"Tukang sabun kan tetap aja ceruk dukungan, dia [Jokowi] ingin menyakinkan bahwa Jabar ini tak menjadi ceruk dukungan dari paslon 02, ini serangan balik [Jokowi] ke Jawa Barat, sehingga apapun yg dianggap seksi dan strategis ya digarap," kata Siti.


Tabir Citra di Balik Pembelian Sabun Rp2 Miliar oleh JokowiPresiden RI Joko Widodo (tengah-baju putih) saat meninjau gudang Bulog, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi)

Politik Simbol untuk Menunjukkan 'Jokowi Bersih'

Peneliti politik lainnya dari LIPI , Wasisto Raharjo Jati menilai Jokowi secara tidak langsung sedang memainkan politik simbol 'sabun cuci' untuk mencitrakan dirinya sebagai sosok yang bersih di mata masyarakat.

Wasis melihat langkah itu ditempuh Jokowi sebagai responsnya terhadap berbagai isu miring yang diarahkan kepadanya oleh lawan politik serta para pendukungnya jelang Pilpres 2019.

Terutama, kata dia, isu miring soal pencapaian empat tahun pemerintahannya yang dinilai tak berkomitmen untuk memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya

"Artinya Pak Jokowi secara diri ingin mepersonifikasikan sebagai tukang bersih-bersih terhadap segala perilaku korup dan oligarkis, mungkin juga hoaks di sosial media terhadap pencapaian pemerintahannya," kata Wasis saat dihubungi, Senin.

Tabir Citra di Balik Pembelian Sabun Rp2 Miliar oleh JokowiEli Liawati. (CNN Indonesia/Feri Agus)
Wasis menilai politik simbol perlu dibangun sebagai modal kekuasaan yang mampu menggerakkan perubahan maupun meraih simpati masyarakat dengan cara yang sederhana.

Soal politik simbol, kata Wasisto, bukan hanya Jokowi saja yang menggunakan. Ia mengatakan dari mulai presiden pertama, Sukarno pun politik simbol itu telah dipakai. Ia mencontohkan Presiden pertama Sukarno yang menyimbolkan dirinya sebagai Penyambung Lidah Rakyat.

"Ada juga Soeharto menyimbolkan sebagai "Semar" sebagai sosok pengayom. Sama dengan Jokowi, itu sebagai simbol," kata dia.

Wasis sendiri menganggap Jokowi sedang berupaya menyasar sesuatu paling mendasar daripada sosok 'emak-emak' yang selama ini identik dengan Sandiaga Uno.

Ia menyatakan Jokowi sedang berupaya untuk mencitrakan diri sebagai sosok yang sebenarnya berdedikasi untuk masyarakat Jawa Barat.

"JKW ingin menyasar hal yang mendasar daripada sekadar emak-emak yang menjadi ikon Sandiaga. Bukan masalah figur yang selama ini disepelekan di rumah tangga, namun adalah siapa yang berdedikasi untuk publik. Dan Jokowi ingin mempersonifikasikan itu," kata dia.

Di satu sisi, Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin Ace Hasan Syadzily menyanggah pembelian sabun Rp2 miliar itu sebagai pencitraan atau sandiwara politik.

Politikus Golkar itu mengatakan pembelian sabun tersebut merupakan upaya Jokowi guna memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Kami tidak sandiwara, kami tidak sebarkan hoaks. Justru yang kami lakukan bagaimana kami mengangkat UMKM supaya mereka menjadi perhatian tingkat nasional," ujar Ace kemarin.

(rzr/kid)