"Prinsipnya kandidat harus dibuat rileks supaya idenya tersampaikan semua. Karena kalau kaku dan tegang yang dikhawatirkan tidak bisa menyampaikan visi misinya," kata Arief di Gedung KPU, Senin (21/1).
Hal ini disampaikan usai rapat bersama Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Maruf Amin, Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uni, Badan Pengawas Pemilu, serta pemangku kepentingan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usulan lainnya adalah debat yang tak akan dilakukan hanya dalam posisi berdiri seperti kali pertama. Arief menyatakan debat selanjutnya bahkan bisa dilakukan dalam posisi duduk.
"Ada sesi duduk, berdiri. Kalau berdiri tanpa podium, di kursi bersandar, atau dengan sofa rileks bisa buat nyaman bisa kami fasilitasi," ucap Arief.
Tetapi, ia menegaskan KPU sama sekali belum memutuskan format baru debat. Menurut dia, hal itu akan difinalisasi dalam waktu dekat sehingga sudah bisa diputuskan ketika kembali bertemu perwakilan kedua pasang kandidat akhir pekan ini.
Imbauan serupa ditujukan kepada TKN, BPN, dan relawan. Menurut dia, mereka harus mengoptimalkan delapan metode kampanye lainnya seperti pertemuan tatap muka, terbatas, pemasangan peraga kampanye, dan media sosial dalam menyampaikan visi, misi, serta program kepada masyarakat.
"Kalau semua hanya bertumpu pada debat untuk informasi utuh. Kami terkendala sisi waktu. Kami mendorong metode lain dimanfaatkan," kata Wahyu. (chri/osc)