Kepala BNPB Tinjau Banjir dan Longsor di Sulsel

CNN Indonesia | Kamis, 24/01/2019 12:11 WIB
Kepala BNPB Tinjau Banjir dan Longsor di Sulsel Tim relawan berusaha menembus lokasi banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019. (ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal Doni Monardo mengaku melaporkan penanganan bencana banjir dan tanah longsor di 10 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan ke Presiden Joko Widodo. Doni mengatakan akan langsung terjun ke lokasi bencana tersebut.

"Dilaporkan tentu saja dan saya izin siang ini berangkat ke Sulawesi Selatan," kata Doni di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (24/1).

Doni menyebut berdasarkan laporan sementara, korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor itu sudah mencapai lebih dari 20 orang, ribuan orang mengungsi hingga belasan ribu terdampak. Menurut Doni, pihaknya telah mengirimkan tim untuk melakukan evakuasi.

"Kemudian mungkin siang ini sudah ada bantuan dari BNPB untuk operasional bagi kabupaten yang resikonya paling besar," ujarnya.


Sebelumnya Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan Syamsibar mengatakan banjir dan tanah longsor di 10 kabupaten/kota di Sulsel telah memakan korban sebanyak 26 orang meninggal dunia.

Sebanyak 26 korban meninggal itu berasal dari tiga kabupaten, yaitu 12 orang Kabupaten Gowa, 10 orang Kabupaten Jeneponto dan 4 orang Kabupaten Maros.

Sementara itu, data yang dirilis BPBD Sulsel melalui Crisis Media Center Pemprov hingga 23 Januari 2019, pukul 23.10 Wita, total korban terdampak bencana banjir sebanyak 3.914 kepala keluarga (KK) atau 5.825 jiwa, 26 orang meninggal dunia, 24 orang hilang, sakit 46 orang dan korban yang mengungsi 3.321 jiwa.

Tinggi muka air Bendungan Bili-bili sampai hari ini pukul 04.50 Wita mencapai +99.45 (normalnya 99,50), volume air waduk sekitar 248.59 meter kubik, inflow sekitar 246.66 meter kubik/detik serta outflow sekitar 246.70/detik. 

Status bendungan pun telah diturunkan menjadi di bawah normal dan tinggi bukaan pintu dikurangi menjadi 2.0 m.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memang sudah menetapkan Sulawesi Selatan sebagai salah satu wilayah yang akan diterjang cuaca ekstrem. Selain hujan lebat, angin kencang juga bisa mencapai 25 knot. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga akhir Januari 2019. (fra/dea)