Menurut dia, JK hanya mengkritik sejumlah dari ribuan proyek infrastruktur yang dikerjakan selama pemerintahan Jokowi.
"Pak JK kan ngomong itu dari ratusan, ribuan infrastruktur yang dia kritik cuma satu, dua, tiga (proyek). Kecil itu, wajar lah," ujar Arya saat dihubungi, Jumat (25/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itulah namanya pemerintahan sekarang ini. Kalau zaman dulu tidak mungkin itu. Jadi itu dari dalam disampaikan terbuka, ya itulah suaranya Pak JK juga," ujar Arya.
JK menyatakan bahwa pembangunan LRT Jakarta dan Palembang sangat mahal dan tak efisien karena menghabiskan biaya hingga Rp500 miliar per kilometer. JK turut menilai pembangunan LRT itu tak efisien karena berada di samping jalan tol.
"Akibatnya jalan tol tidak bisa diperlebar karena ada tiang di sampingnya," tutur JK.
Sementara, pengamat politik Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai kritik yang disampaikan JK tidak elok mengingat statusnya sebagai bagian dari pemerintah.
"Alangkah baik dan bijak jika Pak JK tidak mengkritik pemerintah. Karena beliau bagian dari pemerintah itu sendiri," ujar Ujang dalam pesan singkatnya.
Ujang mengatakan JK seharusnya bersama Presiden Joko Widodo turut mencari solusi atas persoalan-persoalan yang sempat dikritiknya.
Ia menilai JK seharusnya mampu memberi masukan positif karena memiliki pengalaman dan kredibilitas yang tak diragukan sebagai tokoh bangsa.
"Pak JK pasti mampu membereskan masalah-masalah itu. Pak JK tokoh bangsa yang berpengalaman. Kredibilitasnya diakui dunia," ujarnya.
Lebih lanjut, Ujang menuturkan Indonesia bangga memiliki tokoh yang kritis dan solutif seperti JK. Sehingga, ia berkata kritik yang sampaikan JK harus dilihat sebagai bagian dari solusi atas permasalahan yang terjadi.
"Mungkin Pak JK sedang mengingatkan para teknokrat, agar dalam membangun infrastruktur jangan terlalu banyak mengambil untung," ujar Ujang.