Kubu Jokowi soal Tabloid Indonesia Barokah: Bukan Cara Kami

CNN Indonesia | Sabtu, 26/01/2019 15:31 WIB
Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf membantah telah mendistribusikan tabloid Indonesia Barokah. Menurutnya, membangun narasi lewat tabloid gelap bukan cara TKN. Politikus PDIP Aria Bima. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Aria Bima, mengatakan peredaran tabloid Indonesia Barokah yang dinilai berisi konten menyudutkan pasangan calon presiden wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bukan berasal dari kubu Jokowi-Ma'ruf.

Dia menegaskan kampanye dengan menyebarkan selebaran atau tabloid bukanlah cara yang digunakan pihaknya.

"Ini bukan cara TKN. Walaupun kadang kontennya kami setuju, tapi ini bukan cara-cara yang kami pakai," kata Aria di Hotel Puri Denpasar Bali, Jakarta Selatan, Sabtu (26/1).

Aria mengatakan tabloid tersebut membuat suhu politik memanas. Sebab itu, dia meminta agar pengelola tabloid tersebut bertanggung jawab


"Tunjukkan sekretariatnya, harus berani bertanggung jawab. Kalau hanya sekadar selebaran-selebaran gelap saya kira itu yang kita hindarkan. Karena itu membuat perpecahan, membuat situasi tidak kondusif dan ceria," kata Aria.
TKN soal Tabloid Indonesia Barokah: Bukan Cara KamiTabloid Indonesia Barokah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono

Tabloid Indonesia Barokah telah menerbitkan beberapa edisi yang dinilai oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menyudutkan kubu paslon nomor urut 02. Tabloid itu beredar di sejumlah daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Menurut Aria, TKN selalu membuat hal-hal bersifat positif dalam berpolitik. Katanya, pasangan Jokowi-Ma'ruf selalu memberikan informasi lewat aplikasi yang telah dibuat tim.

"Kalau dari Jokowi-Ma'ruf membangun narasi yang positif dengan sumber yang jelas seperti Jokowiapps. Bisa didownload. Kalau ada selebaran yang tidak jelas dari mana asalnya siapa yang bertanggung jawab itu tidak secara terang-terangan ini cara yang bukan Jokowi-Ma'ruf," katanya.
(mts/ugo)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK