Moeldoko Dukung Seruan Pembakaran Tabloid Indonesia Barokah

CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 15:21 WIB
Moeldoko Dukung Seruan Pembakaran Tabloid Indonesia Barokah Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko setuju atas seruan pembakaran Tabloid Indonesia Barokah. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku setuju dengan imbauan Wakil Presiden, sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla yang meminta seluruh pengurus masjid membakar Tabloid Indonesia Barokah bila menemukannya.

Moeldoko menyatakan peredaran tabloid yang bisa membuat gesekan di tengah masyarakat mesti dihindari. Menurut Moeldoko, keberadaan 'Indonesia Barokah' bisa merusak iklim demokrasi.

"Saya pikir memang hal-hal yang bisa menimbulkan apa itu percikan-percikan, gesekan-gesekan, emosi itu supaya dihindari, harus dihilangkan karena kurang bagus dalam iklim demokrasi," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (28/1).


Moeldoko Setuju Seruan Pembakaran Tabloid Indonesia BarokahKepala Staf Presiden, Moeldoko. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Mantan Panglima TNI itu menyebut penerbitan dan peredaran 'Indonesia Barokah' perlu diusut. Moeldoko menyatakan pemerintah tak menginginkan kehidupan demokrasi diwarnai oleh upaya menyebarluaskan berita yang dinilai menyudutkan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

"Kita bangun demokrasi dengan akal sehat, dengan cara-cara yang bermartabat, karena cara-cara yang seperti itu tidak bagus untuk perkembangan demokrasi ke depan," kata dia.


Moeldoko menyerahkan kepada pihak kepolisian mengusut pembuat tabloid yang sudah beredar di sejumlah wilayah. Dia tak ingin kemunculan tabloid tersebut menjadi ajang saling tuding antara dua kubu yang bertarung di pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

"Aparat penegak hukum harus melakukan langkah-langkah agar tidak ada kecurigaan yang berujung pada saling (tuding), nggak sehat lah," ujarnya.

Sebelumnya, JK memerintahkan kepada seluruh pengurus masjid yang telah menerima Tabloid Indonesia Barokah untuk segera membakar tabloid tersebut.

Wakil Presiden Jusuf Kalla. (CNN Indonesia/Safir Makki)

JK juga telah memerintahkan pengurus DMI di daerah untuk mengimbau kepada masjid-masjid supaya tidak mendistribusikan Tabloid Indonesia Barokah kepada masyarakat. Tabloid Indonesia Barokah beredar di berbagai wilayah di Indonesia. Tabloid tersebut umumnya ditemui di masjid-masjid.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sudah melaporkan Indonesia Barokah ke kepolisian dan Dewan Pers. Mereka menganggap tabloid tersebut sangat menyudutkan pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi.

Direktur Materi dan Debat BPN, Sudirman Said menduga peredaran Tabloid Indonesia Barokah dilakukan secara sistematis oleh orang yang memiliki dana besar. Dia pun memastikan tabloid itu bukan dibuat oleh pihaknya karena beberapa artikelnya menyudutkan capres-cawapres yang mereka usung.


Penyebaran 'Indonesia Barokah'.
Sejauh ini, Dewan Pers sudah melakukan investigasi terhadap alamat yang tercantum di tabloid tersebut. Namun, hasilnya nihil. Alamat tersebut diduga fiktif karena tim Dewan Pers yang terjun ke lokasi tidak menemukan kantor redaksi.

Perihal isi, Dewan Pers juga menyebut Tabloid Indonesia Barokah memuat tulisan-tulisan yang bersifat opini dan menghakimi salah satu paslon. Konten yang dimuat juga bukan hasil peliputan, melainkan mengambil sejumlah berita yang sudah tayang sebelumnya di media lain.

Sementara itu, Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Aria Bima menyatakan peredaran Tabloid Indonesia Barokah bukan berasal dari kubunya. Dia menegaskan kampanye dengan menyebarkan selebaran atau tabloid bukan cara mereka.


Kantor pos Solo amankan 550 paket Indonesia Barokah

Dari Surakarta, Jawa Tengah, Kantor Pos Besar Gladak Surakarta dilaporkan masih menahan sekitar 550 sampul kiriman Tabloid Indonesia Barokah. Penahanan dilakukan sesuai instruksi dari PT Kantor Pos Indonesia.

"Kiriman tabloid ini tidak kami antar dulu," kata Wakil Kepala Kantor Pos Besar Gladak Surakarta Zaenal Alamsyah, di Solo, Senin.

Ia mengatakan alamat penerima tersebut tersebar di beberapa masjid di Soloraya sesuai dengan wilayah kerja Kantor Pos Besar Gladak, di antaranya Klaten, Boyolali, Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, dan Solo.

Moeldoko Setuju Seruan Pembakaran Tabloid Indonesia BarokahTabloid Indonesia Barokah. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)


Kepala Kantor Pos Besar Gladak Surakarta Eko Sumaryanto mengatakan Kantor Pos Indonesia secara umum tidak mengetahui isi, tujuan, dan konten kiriman. Ia mengatakan sejauh ini manajemen Kantor Pos Surakarta masih menunggu arahan lebih lanjut, baik dari Kantor Pos pusat maupun regional.

"Untuk sementara kami tidak boleh menyerahkan kiriman ke alamat penerima di Solo. Bukan berarti ini tidak melaksanakan mekanisme kerja tetapi lebih ke kepatuhan," katanya.

Sehari sebelumnya, Kepolisian Daerah Jawa Timur juga menyita ribuan eksemplar Tabloid Indonesia Barokah di sejumlah daerah di Jawa Timur. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan penyitaan itu adalah langkah pencegahan agar masyarakat tidak terpapar informasi dan konten Indonesia Barokah terlalu jauh.

"Banyak sudah yang kami temukan. Kalau dibuka semuanya ya jumlahnya ribuan. Ada dari berbagai daerah di Jawa Timur, di Pasuruan, di Mojokerto, semuanya sudah kami sita," kata Barung, Sabtu (26/1).

(fra/ain)