Kubu Jokowi Sebut Tak Tahu Menahu soal Tabloid Pembawa Pesan

CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 17:46 WIB
Kubu Jokowi Sebut Tak Tahu Menahu soal Tabloid Pembawa Pesan Juru bicara TKN Abdul Kadir Karding menyebut pihaknya tidak tahu menahu soal peredaran tabloid Pembawa pesan. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin menyatakan belum mengetahui informasi soal tabloid Pembawa Pesan berisi pemberitaan mengenai Jokowi yang beredar di kawasan Jakarta Selatan. Bawaslu DKI sendiri tengah menelusuri tabloid yang pemberitaannya diduga terkait kampanye.

Juru bicara TKN Abdul Kadir Karding menduga tabloid tersebut diproduksi oleh masyarakat atau relawan yang mendukung Jokowi-Ma'ruf.

"Kita jujur saja belum tahu. Sampai saat ini TKN belum memproduksi tabloid apapun sehingga saya menduga kalau itu dari masyarakat, komunitas, atau relawan," ujar Karding saat dihubungi, Rabu (30/1).



Meski belum mengetahui, Karding menuturkan peredaran tabloid tersebut bukan menjadi persoalan jika konten yang dimuat berisi fakta sebagaimana ketentuan undang-undang. Pun jika koran itu memuat konten kampanye negatif, kata dia, itu tak jadi masalah.

Yang masalah jika konten yang dimuat berisi kampanye hitam yang dilarang dalam pemilu.

"Mudah-mudahan semuanya, beritanya, kontennya tidak melanggar. Artinya maksimum pada kampanye negatif, jangan ada black campaign," ujarnya.
Kubu Jokowi Sebut Tak Tahu Menahu Soal Tabloid Pembawa PesanBadan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) DKI Jakarta menemukan peredaran tabloid Pembawa Pesan. (Dok. Istimewa).

Lebih lanjut, politisi PKB ini mengaku TKN tidak bisa melarang masyarakat yang mendukung Jokowi-Ma'ruf untuk membuat tabloid itu. Pihaknya hanya dapat mengingatkan pendukung Jokowi-Ma'ruf tidak melakukan kampanye hitam.


"Kalau dari masyarakat kami tidak bisa melarang. Jadi kami mengimbau jangan black campaign," ujarnya.

Sebelumnya, Bawaslu DKI Jakarta menyebut telah menerima laporan masyarakat perihal peredaran tabloid Pembawa Pesan. Tabloid itu diketahui diterima secara tiba-tiba oleh warga dari kurir.

Bawaslu DKI belum menyimpulkan apakah tabloid itu melanggar aturan atau tidak. (jps/osc)