Charta Politika: PDIP dan Gerindra Dominasi Suara DKI

CNN Indonesia | Senin, 11/02/2019 19:34 WIB
Charta Politika: PDIP dan Gerindra Dominasi Suara DKI Charta Politika saat memaparkan hasil survei Pemilu di Jakarta. (CNN Indonesia/Aini Putri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerindra diperkirakan akan mendominasi daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta 1, 2, dan 3 di pemilu legislatif 2019. Hal ini berdasarkan hasil survei Charta Politika terhadap elektabilitas partai politik yang mengikuti Pileg 2019.

"Jadi hampir di 3 dapil ini, memang kalau kita lihat komposisinya dikuasai oleh PDI Perjuangan dan Gerindra," kata Direktur Riset Charta Politika Muslimin dalam acara pemaparan hasil survei di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2).

Survei Charta Politika dilakukan dalam periode 18-25 Januari 2019 dengan melakukan wawancara tatap muka terhadap 800 responden dari setiap dapil. Artinya terdapat 2.400 responden yang ikut berpartisipasi dalam survei itu. Margin of error dari setiap dapil dinyatakan lebih kurang 3,4 persen.


DKI Jakarta sendiri terbagi dalam tiga dapil untuk Pileg DPR RI. Dapil I meliputi Jakarta Timur. Dapil II terdiri dari Jakarta Pusat plus luar negeri dan Jakarta Selatan. Lalu dapil III melingkupi Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat. 

Dalam simulasinya, tim survei menyodorkan gambar partai dengan menanyakan pilihan masyarakat apabila Pileg dilakukan hari ini.

"Di dapil DKI 1, yang unggul masih ada PDIP, kemudian 17, 6 persen. Kemudian Gerindra ada 14.0 persen. Kemudian nomor 3 Golkar, 9,8 persen, kemudian ada PKB di urutan keempat 8,6 dan seterusnya," jelas Muslimin.

Pada dapil Jakarta 2, Charta Politika mencatat Gerindra unggul dengan 27 persen suara, diikuti PDIP dengan 24,6 persen suara. Lalu ada PKS dan PKB dengan masing-masing meraih 8,3 persen dan 4,3 persen.

Muslimin mengatakan selain wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, Dapil DKI Jakarta 2 seharusnya juga meliputi pemilih luar negeri. Namun, dalam survei ini, Charta Politika tidak mengambil sampel pemilih luar negeri karena kendala teknis.

"Di DKI 2 yang unggul sementara adalah Gerindra, jadi di DKI 2 ada Jakpus dan Jaksel. Kebetulan juga ada luar negeri. Namun saya menjelaskan sampel kita hanya ada di Jakpus dan Jaksel," ungkapnya.

Sementara itu pada dapil DKI Jakarta III, Muslimin memaparkan PDIP kembali unggul dengan perolehan suara 29,4 persen. Di urutan kedua Gerindra dengan perolehan 21 persen suara, diikuti PKS dan Golkar masing-masing 7 persen dan 5,5 persen suara.

Menurut Muslimin, coattail effect atau efek ekor jas sangat mempengaruhi pemilih caleg di DKI Jakarta. Artinya, para pemilih dipengaruhi oleh capres-cawapres yang diusung partai-partai.

"Kalau kita lihat komposisinya PDIP dan Gerindra karena memang bagaimana kemudian kita bisa katakan bahwa coattail effect di DKI capres dan cawapres mempengaruhi pilihan terhadap partai pengusung itu cukup berpengaruh di dapil DKI 1, 2, dan bahkan 3," jelas Muslimin.

Tsamara Amany Paling Populer

Hasil survei Charta Politika juga mencatat caleg dari PSI, Tsamara Amany paling dikenal masyarakat di dapilnya, DKI Jakarta II. 

Popularitas Tsamara itu mengejutkan mengalahkan politikus PKS Hidayat Nur Wahid. Muslim mengatakan temuan ini mengejutkan karena Tsamara adalah pendatang baru di kontestasi Pileg.

"Yang di DKI II yang tertinggi adalah mbak Tsamara Amany ini 26,4 persen tingkat keterkenalannya. Kemudian sterusnya ada Hidayat Nur Wahid, dan seterusnya," kata Muslimin.

Charta Politika: PDIP dan Gerindra Dominasi Dapil DKICaleg dari PSI, Tsamara Amany. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Di dapil DKI Jakarta I, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi paling populer dengan angka 51,8 persen dan dapil DKI III dikuasai Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra meraih 58,8 persen popularitas. 

Muslimin mengingatkan keunggulan popularitas tidak menjadi jaminan mereka akan terpilih pada Pileg 2019. Hal ini karena dinamika politik yang masih terus berubah hingga dua bulan ke depan.

"Populer itu penting tapi ternyata popularitas tak jamin terpilih. Kemudian kedua, kalau kita lihat rata-rata caleg yang bekerja itu tidak banyak di bawah sehingga kecenderungan orang tadi lebih banyak memilih parpol," jelas Muslimin. (ani/wis)