Merujuk salinan visi dan misi yang diunggah di laman kpu.go.id, Prabowo-Sandi membagi misinya menjadi empat segmen. Hal-hal yang berkenaan dengan lingkungan hidup diurai dalam segmen ketiga: Pilar Budaya dan Lingkungan Hidup.
Ada empat poin rencana yang akan dilakukan dalam bagian itu. Pertama, Prabowo-Sandi ingin berperan aktif mengatasi perubahan iklim global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasangan yang diusung Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN itu juga ingin memperhatikan nasib hewan-hewan langka. Caranya dengan meningkatkan luas area perlindungan dan konservasi.
Prabowo-Sandi menjelaskan pula program aksi yang akan ditempuh dalam salinan visi dan misi yang diunggah di laman kpu.go. Misalnya saja pencegahan serta penindakan tegas terhadap pelaku pencemaran lingkungan serta pembakaran hutan.
"Serta melindungi keanekaragaman hayati flora dan fauna sebagai bagian dari aset bangsa," mengutip butir nomor 2 Program Aksi Budaya dan Lingkungan Hidup.
Program aksi selanjutnya adalah mendorong semua usaha kehutanan dan produk turunannya agar mendapat sertifikat pengelolaan hutan. Sertifikat yang dimaksud harus diterima oleh pasar global.
Sementara perihal pertambangan, Prabowo menyatakan akan mendorong usaha pertambangan yang ramah lingkungan serta menertibkan pertambangan liar.
"Mendorong penggunaan kantong plastik yang berbahan nabati dan ramah lingkungan," bunyi butir nomor 10 program aksi.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menyebut visi misi Prabowo-Sandi terkait lingkungan hidup memiliki sejumlah kelemahan.
Salah satunya adalah isu-isu lingkungan yang luput dari program kerja besutan Prabowo-Sandi, seperti penanganan sampah plastik, perlindungan lahan gambut, hingga pemberdayaan masyarakat adat.
Lihat juga:Jadwal Debat Capres Kedua di Pilpres 2019 |
"Jadi saya kira skema pembangunan yang mengambil lahan puluhan juta hektare untuk energi alternatif itu pasti bermasalah," kata Leonard yang dihubungi via telepon.
"Dari mana lagi hutan yang mau dideforestasi?" imbuhnya.
Jika yang dikejar jumlah produktivitas, Leonard mengingatkan bahwa tingkat produktivitas di lahan-lahan seperti hasil sawit, masih bisa digenjot secara intensif.
Pasalnya hasil perkebunan sawit di Indonesia masih di kisaran 3-4 ton per hektare, sementara di Malaysia hasilnya bisa mencapai 10-12 ton per hektare. (bmw/bin/osc)
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen