Kronologi Santri Tewas Dikeroyok 19 Rekan di Padang Panjang

Antara, CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 19:33 WIB
Kronologi Santri Tewas Dikeroyok 19 Rekan di Padang Panjang Ilustrasi. (Istockphoto/aradaphotography)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang santri Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Padang Panjang, Sumatera Barat, RA tewas karena diduga dikeroyok 19 rekannya sesama santri. Polisi telah menetapkan 17 santri sebagai tersangka yang semuanya berstatus di bawah umur. 

"Kami sudah gelar perkara dan 17 santri ditetapkan sebagai anak pelaku. Sebutan untuk tersangka yang berusia di bawah umur," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Padang Panjang, Inspektur Satu Kalbert Jonaidi di Padang Panjang, Sabtu (16/2), seperti dikutip dari Antara.

Kalbert mengatakan usia terduga 17 santri itu berkisar antara 15 sampai 16 tahun. Mereka melakukan pengeroyokan diduga sebanyak tiga kali dalam tiga haru yakni Kamis (7/2), Jumat (8/2) dan Minggu (10/2).


Polisi mengetahui peristiwa ini pertama kali dari paman korban yang datang melapor ke Polsek X Koto, Selasa (12/2) pekan lalu.

Saat itu paman korban melaporkan korban jadi korban kekerasan hingga tidak sadarkan diri dan dirawat di RSUP M Jamil, Padang.

Aksi pengeroyokan ini dipicu oleh korban yang diduga korban mengambil barang milik santri lain tanpa izin. Kalbert mengatakan korban diduga beberapa kali mencuri barang milik temannya seperti ponsel, pengeras suara dan lain-lain.

Dari hasil pemeriksaan, Kalbert menuturkan para pelaku mengaku marah karena korban sudah mengakui kesalahan dan minta maaf, tapi tetap saja mencuri.

Pengeroyokan membuat RA tak sadarkan diri. Ia lalu dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padang Panjang. Namun, karena kondisinya parah, kemudian dirujuk ke RSUP M Djamil, Padang.

Dilansir dari Detikcom, Kapolsek X Koto, Ajun Komisaris Rita Sunarya mengatakan korban dilarikan ke RSUP M Djamil, Minggu (10/2) pekan lalu. Saat itu RA langsung dirawat intensif di Ruang Observasi Intensif (ROI).

Diagnosa awal, pasien mengalami gangguan pada bagian kepala dengan tingkat kesadaran 6 persen. Pasien diduga mengalami geger otak dan mengalami Trauma Thoraks atau cedera di bagian dada. 

Nyawa RA tak tertolong. Dia mengembuskan nafas terakhir di RS M Djamil Padang pada Senin (18/2) kemarin, setelah sempat tak sadarkan diri selama lebih dari satu pekan.

Pejabat pemberi informasi RSUP M Djamil Padang, Gustavianof, mengatakan korban diketahui meninggal dunia sekitar pukul 06.22 WIB.

Kalbert mengungkapkan sampai saat ini para santri yang telah ditetapkan sebagai anak pelaku tidak ditahan sesuai dengan permintaan sekolah dan orang tua.

Tanggung Jawab Pesantren

Sementara itu Komisi Perlidungan Anak Indonesia(KPAI)  Putu Elvina meminta pihak pesantren di Nagari Balai Gadang Koto Laweh, Kecamatan X Koto Tanah Datar, bertanggung jawab atas kasus pengeroyokan terhadap RA itu.

Putu yang merupakan komisioner KPAI penanggung jawab bidang Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) juga berharap pihak pesantren mengevaluasi proses pembinaan, pengawasan dan pola relasi antarsantri yang lebih baik.

Selain itu Putu meminta prosedur penanganan terhadap pelaku anak-anak dilakukan sesuai dengan UU Sistem Peradilan Anak. Misalnya, dengan mengutamakan upaya rehabilitasi agar mereka tidak kembali melakukan perbuatan tersebut.

"Mereka juga harus didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum sehingga hak-hak mereka selama menjalani proses dilindungi," kata dia.

Putu mengatakan kasus kekerasan terhadap anak di lingkup pendidikan memiliki dinamika yang luar biasa, baik dari tempat terjadinya kekerasan maupun jenis kekerasan.

"Pengeroyokan yang dilakukan sekelompok anak terhadap salah satu teman mereka, korban yang sempat dirawat di rumah sakit akhirnya meninggal dunia. Duka cita mendalam KPAI untuk keluarga korban. Saya sebelumnya berencana mau membesuk korban tapi Allah lebih sayang dia," katanya. (wis/wis)