Polisi Mojokerto Sebut Jenazah yang Ditolak Akan Dipindah

CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 02:30 WIB
Polisi Mojokerto Sebut Jenazah yang Ditolak Akan Dipindah Ilustrasi pemakaman. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Resor Mojokerto Kota menyatakan jenazah Nunuk, umat Kristen, akan dipindahkan ke pemakaman Nasrani. Hal ini menyikapi reaksi sejumlah warga yang menolak jenazah dikubur di pemakaman muslim di Desa Ngares Kidul, Kecamatan Gedek, MojokertoJawa Timur.

Selama hidupnya, Nunuk adalah warga desa tersebut. Selain itu, keluarga Nunuk satu-satunya umat Kristen yang tinggal di desa tersebut.


"Makam sdr. Nunuk akan dipindahkan ke makam Nasrani Kedungsari di daerah Kemlagi, Kabupaten Mojokerto," ujar Kapolresta Mojokerto AKBP Sigit Dany Setiono dalam keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/2).


Ia menyatakan hal ini merupakan kesepakatan mediasi yang melibatkan semua pihak, baik perwakilan tokoh Islam, keluarga almarhumah, kepolisian, maupun pihak Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika).



Sigit mengatakan pihaknya menggelar mediasi untuk menghindari keributan di tengah masyarakat. Selain itu, pihaknya juga mengimbau semua pihak bisa menahan diri agar tidak terjadi gesekan di masyarakat.


"Sambil menunggu lokasi dan waktu pemindahan, maka semua pihak menahan diri menghindari gesekan," kata Sigit.


Dia mengatakan saat ini jenazah Nunuk belum dipindahkan ke Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.


Sebelumnya, sejumlah warga menolak pemakaman almarhumah Nunuk pada Jumat (15/2). Saat itu, pihak keluarga sedang mengurus pemakaman ke kepala desa. Menurut Sigit, penolakan terjadi karena warga menganggap area itu adalah pemakaman Muslim, bukan pemakaman umum.

Saat itu sempat dilakukan musyawarah bersama perwakilan tokoh dan muspika. Hasil kesepakatan memutuskan bahwa jenazah Nunuk boleh dikubur di pemakaman Desa Ngares Kidul dengan beberapa syarat untuk menghormati syariat Islam.


Syarat itu adalah selama proses pemakaman tidak ada ritual ala Kristen dan tidak boleh ada salib di makam.


"Namun setelah pemakaman dilaksanakan, penolakan dari tokoh-tokoh Islam terus bermunculan dan semakin kuat," ujar Sigit.


Pada Rabu (20/2) lalu, musyawarah kembali diadakan dan menghasilkan titik temu. Sigit mengatakan saat ini situasi sudah terkendali. Dia berharap semua pihak ikut mendamaikan suasana.


"Diharapkan tidak ada upaya di medsos untuk menggalang dukungan dari pihak manapun yang akan memperkeruh suasana," kata Sigit.


Sebelumnya, penggerak Gusdurian Mojokerto Kukun Triyoga yang ikut mengawal kasus ini menyatakan pihak keluarga telah legawa atas pemindahan jenazah Nunuk. Pihaknya juga mendesak pemerintah setempat menyediakan pemakaman bagi nonmuslim. 
Sementara menurut Kukun, Novi belum bersedia diwawancarai terkait hal ini.


Pegiat Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Aan Anshori dalam unggahan di akun Facebook menyampaikan bahwa anak almarhumah, Novi, lebih banyak diam karena tak ingin memperkeruh masalah. Namun dia berpendapat keluarganya berhak mendapat layanan pemakaman yang sama, meskipun berbeda agama.

(pmg/pmg)