Gerindra Sebut Jenderal Clark Bukan Utusan AS untuk Prabowo

CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 19:35 WIB
Gerindra Sebut Jenderal Clark Bukan Utusan AS untuk Prabowo Partai Gerindra membantah Jenderal (Purn.) Wesley Kanne Clark sebagai utusan AS untuk menjajaki kerja sama dengan Prabowo Subianto jika menang di Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sugiono membantah bahwa Jenderal (Purn.) Wesley Kanne Clark, yang datang ke Hambalang, Bogor, adalah utusan Amerika Serikat (AS) untuk menjajaki kerja sama dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto jika menang di Pilpres 2019.

Dia pun menampik soal asumsi bahwa AS berencana membentuk poros Jakarta-Washington DC.

"Enggak, enggak. Kalau ada [tudingan] itu sangat konspiratif dan spekulatif," kata Sugiono, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (22/2)


Sugiono mengatakan Clark dan Prabowo, yang juga merupakan Ketua Umum Partai Gerindra, sama-sama pebisnis berlatar belakang militer yang sudah lama saling kenal.

"Sebelum ada partai [Gerindra] itu udah kenal. Sama sama di bisnis," ujar Sugiono.

Sebelum bertemu Clark, Prabowo juga sudah menerima kunjungan Dubes China untuk Indonesia Xiao Qian, di Hambalang, Rabu (26/9/2018).Sebelum bertemu Clark, Prabowo juga sudah menerima kunjungan Dubes China untuk Indonesia Xiao Qian, di Hambalang, Rabu (26/9/2018). (Dok. Tim Internal Prabowo Subianto)
Ia juga menyebut tidak ada diskusi mendalam antara Prabowo dan Wesley selama di Hambalang. Tidak ada pula pembicaraan Mengenai misi pemenangan Pilpres 2019.

"Dia diundang Universitas Kebangsaan untuk memberi ceramah. Kebetulan kan Pak Prabowo kenal. Dia diundang sebagai ahli strategi sekaligus ekonom," kata Sugiono.

Diketahui, Prabowo mengundang Wesley Kanne Clark, yang merupakan mantan Komandan Tertinggi Pasukan Sekutu NATO di Eropa, untuk berceramah di Universitas Kebangsaan di Hambalang, Bogor, Jumat (22/2).

Sugiono menyebut isi ceramah Clark berkutat pada tantangan ke depan di Asia Pasifik yang tak jauh beda dengan pandangan Prabowo dalam buku Paradoks Indonesia maupun lewat pidato atau secara lisan di berbagai kesempatan. Kesamaan itu, lanjutnya, lumrah karena keduanya telah lama saling kenal.

"Saya kira keduanya punya pemikiran yang sama. Dalam penjelasannya, juga sama dengan yang sudah dijelaskan Pak Prabowo kepada publik Indonesia," kata dia.

Clark, kata Sugiono, menyebut tantangan yang akan dihadapi Asia Pasifik berkutat pada ketimpangan ekonomi dalam negeri, lingkungan hidup, dan dunia siber.

Buku 'Paradoks Indonesia’ dalam versi braille.Buku 'Paradoks Indonesia’ dalam versi braille. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Ada pula ada persoalan China yang menjelma sebagai kekuatan baru dunia. Negara-negara Asia Pasifik pun harus siap menghadapi konstelasi finansial dunia.

"Itu kan sudah disampaikan di [buku] Paradoks Indonesia, soal keluarnya kekayaan negara ke luar negeri. Hampir semuanya align dengan yang dipikirkan oleh Jenderal Wesley Clark," tandas Sugiono.

Dikutip dari Bloomberg, Clark merupakan penasihat khusus di Juhl Energy Inc., Direktur LeaGold Mining Corporation sejak Agustus 2016, serta Penasihat Khusus di Curaegis Technologies Inc., sejak Januari 2014.

Selain itu, Clark merupakan salah satu pendiri lembaga Clinton Global Initiative (CGI), organisasi yang didirikan oleh mantan Presiden AS Bill Clinton.

[Gambas:Video CNN] (bmw/arh)