PA 212 Tak Tanggung Jawab Liputan di Luar Ring Munajat Monas

CNN Indonesia TV, CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 21:09 WIB
PA 212 Tak Tanggung Jawab Liputan di Luar Ring Munajat Monas Persaudaraan Alumni 212 tak bertanggung jawab terhadap kekerasan yang menimpa jurnalis saat Munajat 212 karena berada di luar ring yang sudah ditentukan. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Media Center Persaudaraan Alumni 212 Novel Bamukmin mengaku tak bertanggung jawab terhadap kekerasan yang menimpa jurnalis yang meliput acara Munajat 212, di Monas, Jakarta, Kamis (21/2) malam.

Menurut Novel, para jurnalis itu tak berkoordinasi dengan pihaknya dan melakukan kegiatan peliputan di area yang seharusnya.

"Jadi kita tidak bertanggung jawab atas peliputan di luar ring yang kita tentukan," kata dia, di CNN Indonesia TV, Jumat (22/2).


Menurut Novel, area yang diperbolehkan adalah di depan panggung utama dimana para tokoh dan ulama hadir.

"Ada [wartawan] yang berkoordinasi baik dengan saya, saya kasih tempat bersebelahan dengan ulama, siapapun silahkan," aku dia.

Sejumlah ornag berseragam putih-putih mengawal gelaran Munajat 212.Sejumlah orang berseragam putih-putih mengawal gelaran Munajat 212. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Saat ditanya soal kemungkinan ada instruksi terhadap laskar sipil yang mengamankan lokasi untuk membatasi setiap peliputan dan menghapus rekaman pewarta hingga melakukan kekerasan, Novel membantahnya.

"Kelaskaran itu kan beragam, dengan berbagai karakternya, mungkin improvisasi. Yang pasti tidak pernah mengarahkan seperti itu," tepis dia.

"[Perintah kami] amankan jangan sampai terjadi provokasi-provokasi, apalagi di belakang pangung, apalagi sebelumnya ada teror bom, harus mengamankan siapapun yang tidak ada koordinasinya dengan kita," tambah Novel.

Novel mengaku bahwa pihaknya ingin yang dihadirkan media adalah berita-berita positif, bukan berita provokatif.

"Kami mengecam pemberitaan-pemberitaan negatif. [Munajat] ini kan tugas yang mulia, doa ini, munajat ini, untuk menjaga keselamatan bangsa," kata dia.

"Mari membangun berita yang positif, membangun bangsa ini," imbuhnya.

Panggung Malam Munajat 212 yang diisi sejumlah ulama dan tokoh politik.Panggung Malam Munajat 212 yang diisi sejumlah ulama dan tokoh politik. (CNN Indonesia/Novitasari)
Terkait pelaporan terhadap anggota laskar, Novel mempersilakannya dan mengaku akan mengawal proses hukum. Namun ia berharap masih ada pintu solusi secara kekeluargaan.

"Silahkan saja [diproses hukum], kami hormati proses hukum, kami kawal, tapi membuka [penyelesaian] secara kekeluargaan agar tidak terlalu runcing. Ini masalah eskalasi politik," tutur dia, yang juga merupakan tokoh Front Pembela Islam (FPI) ini.

Senada, Ketua Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Muhammad Martak mengatakan pihaknya menyerahkan kepada masyarakat soal tindakan terhadap jurnalis yang dianggap memberitakan hal yang negatif.

"Kalau yang diliput tidak bagus, ya saya serahkan ke masyarakat saja, masyarakat sekarang tidak bodoh," cetusnya.

Di acara yang sama pakar komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad mengatakan persekusi terhadap jurnalis terkait kekhawatiran atas media yang tak netral, terutama menjelang Pilpres 2019.

Selain itu, kata dia, hal itu terkait dengan kekhawatiran jika pemberitaan itu akan merusak citra pihak yang diliput tersebut.

PA 212 Tak Tanggung Jawab Liputan di Luar RingFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
"Khawatir jika liputan itu merusak citra dirinya," tutup Nyarwi.

Sebelumnya, wartawan detik.com Satria Kusuma diduga dipersekusi dan dianiaya oleh sekelompok oknum yang hadir dalam Munajat 212 karena merekam insiden penangkapan copet di acara itu. Kasus ini kemudian dilaporkan ke kepolisian.

[Gambas:Video CNN] (arh/sur)