BPPTKG Sebut Suplai Magma Gunung Merapi Masih Rendah

CNN Indonesia | Selasa, 26/02/2019 00:38 WIB
BPPTKG Sebut Suplai Magma Gunung Merapi Masih Rendah Luncuran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Bukit Klangon, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (13/1/2019) malam. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegempaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menyebut suplai magma Gunung Merapi saat ini masih tergolong dalam kategori rendah. Hal tersebut membuat frekuensi guguran lava maupun awan panas guguran menjadi jarang terjadi.

Pada Senin (25/2), Gunung Merapi sempat mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur 1.100 meter dengan durasi 110 detik pada pukul 11.24 WIB. Luncuran awan panas itu mengarah ke Kali Gendol, namun tak teramati dari video pemantau (CCTV) karena cuaca yang berkabut.

Meski begitu, kata Hanik, status Gunung Merapi saat ini masih tetap di level II atau Waspada. Ia mengatakan ada dua kemungkinan yang terjadi setelah status waspada tersebut termasuk turun menjadi normal kembali. Hanik mengatakan kemungkinan itu dapat terjadi karena melihat suplai magma Gunung Merapi cenderung sangat kecil. 


"Ingat status waspada itu masih bisa menjadi normal ya. Tidak harus (menjadi) awas. Kalau waspada itu bisa kembali ke normal, bisa juga meningkat," kata Hanik di Kantor BPPTKG, Yogyakarta, Senin (25/2).


Menurut data BPPTKG sejak 29 Januari 2018 hingga hari ini, Gunung Merapi telah memuntahkan setidaknya 13 kali awan panas guguran ke arah Kali Gendol. Dari fenomena awan panas itu, yang memiliki jarak luncur maksimum terjadi pada 7 Februari 2018 lalu yakni sepanjang 2.000 meter.

"Kalau erupsi merapi yang tahun-tahun 2006 dan sebagainya itu, sehari bisa puluhan sampai ratusan ya. Jadi sekali lagi tolong untuk menyampaikan ke masyarakat atau menyampaikan informasi ini adalah aktivitas merapi yang masih kecil," ucap Hanik.

Berdasarkan alasan itu pula yang kemudian mendasari BPPTKG hingga saat ini masih tetap mempertahankan status Gunung Merapi pada level II atau Waspada. BPPTKG baru akan mengevaluasi kembali status dari tingkat aktivitas Gunung Merapi bila terjadi guguran lava atau awan panas guguran yang meluncur sejauh lebih dari tiga kilometer.

Hanik menambahkan sejauh pola kejadian masih seperti itu, belum ada ancaman terhadap penduduk yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Artinya, masyarakat masih bisa tenang dan melakukan aktivitas seperti biasa.

"Kalau kita menaikkan status itu ya dalam mitigasi itu adalah yang menjadi concern itu adalah ancaman terhadap penduduk. Jadi kalau ancaman itu belum ada ya kita tidak akan menaikkan status tersebut," kata dia.


Meski status tetap Waspada, Hanik mengimbau masyarakat di sekitar lereng Gunung Merapi tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak gunung dan mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik, serta mewaspadai potensi bahaya lahar dingin terutama saat terjadi hujan.

Sementara itu, akibat luncuran awan panas pada Senin (25/2) siang terjadi hujan abu tipis di sekitar lereng Gunung Merapi yang mengarah ke utara-barat laut. Tepatnya di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Abunya tipis sekali sehingga lokal saja gitu, sekitar lereng Gunung Merapi. Potensi lahar (dingin) ada tetapi masih kecil ya karena volume material yang dikeluarkan juga tidak banyak," ujar Hanik.


Hasil pengamatan BPPTKG pukul 06.00-12.00 WIB menyebutkan berdasarkan data seismik terekam sembilan kali gempa guguran, satu kali gempa frekuensi rendah, dan satu kali gempa vulkanik fase banyak.

Sementara, menurut analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi yang dirilis BPPTKG untuk periode 8 hingga 14 Februari 2019, volume kubah lava gunung itu relatif sama dengan data pekan sebelumnya yakni mencapai 461.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 1.300 meter kubik per hari.

Kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan yang masih rendah, rata-rata kurang dari 20.000 meter kubik per hari.


[Gambas:Video CNN] (dea/ain)