Polri Sebut Kelompok Ali Kalora Tinggal Punya 4 Pucuk Senjata

CNN Indonesia | Senin, 04/03/2019 16:23 WIB
Polri Sebut Kelompok Ali Kalora Tinggal Punya 4 Pucuk Senjata Ilustrasi penangkapan teroris kelompok Ali Kalora. (Zainuddin MN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi menyebut tertembaknya salah satu anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) oleh aparat gabungan kian melemahkan kelompok tersebut. Di samping itu, kepolisian menyebut persenjataan kelompok yang dipimpin Ali Kalora itu tinggal empat pucuk senjata.

Dalam konferensi pers mengenai operasi Tinombala, Asisten Operasi (Asops) Kapolri Irjen Rudi Sufahriadi mengatakan setidaknya saat ini kelompok Ali Kalora diperkuat 14 orang.

Jumlah itu sudah ditambah dengan enam anggota yang belum lama bergabung. Kendati demikian, Rudi menyebut pasokan senjata mereka sama sekali tak bertambah.


"Senjatanya M16 sisa 2, senjata pendek ada 2 revolver. Jadi kemarin orangnya nambah 6, tapi senjatanya tidak tambah," ujar Rudi di Mabes Polri, Senin (4/3).


Rudi menegaskan kemungkinan besar tidak ada tambahan pasokan senjata yang berhasil diperoleh kelompok Ali Kalora. Hal serupa terjadi pada persediaan peluru mereka.

"Senjatanya tidak pernah tambah, peluru tidak pernah tambah. Jadi kemungkinan tidak," ucapnya.

Satgas Tinombala, kata Rudi, sudah memetakan keberadaan kelompok Ali Kalora yang saat ini masih di gunung-gunung di sepanjang pesisir utara dan selatan Poso. Akibat pengejaran yang terus dilakukan oleh Satgas, kata dia, kelompok Ali ini disebut terus menjauh hingga Sausu-Parigi Moutong.


Pada konferensi pers hari ini, Mabes Polri mengumumkan keberhasilan mereka melumpuhkan seorang teroris anggota MIT pimpinan Ali Kalora bernama Basir alias Romzi.

Basir yang masih satu kelompok dengan Ali merupakan buronan sejak 2012. Keahliannya dengan senjata api membuatnya punya reputasi cukup tinggi di kelompok Ali.

Di samping melumpuhkan Basir, Satgas Tinombala juga menangkap seorang anggota MIT lainnya yang bernama Aditya. Kendati demikian, aparat masih belum menangkap Ali Kalora. Rudi mengatakan pihaknya masih mengalami sejumlah kendala.

"Dari dulu klasik, medan yang susah, mereka berpindah-pindah, mereka lebih menguasai medan. Sementara Satgas gantian enam bulan sekali. Ketika menguasai medan, langsung dipindah," kata Rudi.

(bin/ain)