Perjuangan Tim Manggala Agni Lawan Karhutla di Bumi Riau

CNN Indonesia | Senin, 11/03/2019 10:04 WIB
Sejumlah sekolah di Dumai, Riau, sempat meliburkan para siswanya akibat asap kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)
Riau, CNN Indonesia -- Asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) belum sepenuhnya menghilang di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, pada Selasa (5/3). Di sejumlah titik, asap dan aroma dari lahan yang terbakar masih menghalangi jarak pandang. Aromanya menyesakkan dada.

Catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak Februari 2019, Rupat adalah salah satu wilayah kebakaran terparah. Di sana luas lahan terbakar sekitar 200-an hektare.

Titik-titik karhutla itu terpantau cukup jelas dari helikopter jenis Heli Bell 412 milik KLHK yang kami tumpangi. Kaca helikopter bahkan sempat diselimuti asap pekat karhutla jelang memasuki Rupat. Namun asap itu cepat menghilang seiring heli yang terus terbang menuju Dumai.


Dari Dumai, butuh waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan kapal penyeberangan jenis roll on roll off alias Roro untuk sampai ke Tanjung Kapal, Rupat. Dari Tanjung Kapal, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mobil tipe 4WD menuju Desa Pergam.

Kemudian dari pinggiran Desa Pergam perjalanan berlanjut menggunakan motor tumpangan anggota Korps Manggala Agni.

Mandala Agni adalah tim yang dikerahkan KLHK untuk memadamkan karhutla di Riau. Setidaknya ada dua sampai tiga regu Manggala Agni yang turun di satu desa yang mengalami karhutla.

CNNIndonesia.com bersama Korps Manggala Agni akhirnya tiba di titik kebakaran di wilayah Desa Pergam sekitar pukul 18.18 WIB. Sore semakin memudar. Suasana perlahan gelap. Namun, para anggota Manggala Agni masih sibuk bertarung di lahan yang terbakar.

Mereka dikejar waktu untuk memastikan area lahan sudah steril api yang membakar. Wakil Komandan Regu II Manggala Agni, Daops Dumai, Syafrudin, mengatakan tim harus bisa menuntaskan titik kebakaran hingga benar-benar padam. Ini akan dilakukan meski hingga tengah malam.

"Karena kalau kita tinggalkan di tengah jalan bisa tersebar lagi api dan sia-sialah yang kita kerjakan dan padamkan," kata Syafrudin.

Melawan Api Karhutla di Tanah Lancang KuningUpaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Riau. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Asap baru benar-benar padam sekitar pukul 19.00 WIB. Tak lama, belasan anggota Manggala Agni pun memutuskan pulang ke barak, tempat mereka menginap. Dari titik Pergam butuh waktu setidaknya dua jam untuk sampai ke Barak.

Tim tiba sekitar pukul 21.00 WIB. Barak ini bukan barak permanen, melainkan rumah kayu yang dipinjamkan warga. Syafrudin dan teman-temannya sudah menginap selama dua minggu di barak tersebut.

Tempat ini dipilih karena dekat dengan 'Kepala Api' yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi mereka tidur.

"Kalau di awal-awal ini kepala mulanya kebakaran. Dan ini habis terbakar semua sejak Februari kemarin. Sekarang sudah selesai tinggal pendinginan," kata Syafrudin.

Sesak di dada tak terhindarkan saat mencium bau sisa kebakaran saat kami tiba di barak. Namun tidak bagi Syafrudin dan para Manggala Agni lainnya. Bagi mereka, bau itu tak sebanding dengan rasa bangga menyelamatkan lahan dan hutan di Tanah Lancang Kuning.

"Kerja kami buat nyelamatin tanah kami sendiri. Kita sadar itu makanya kita bertahan dari 2002 sampai sekarang," ujar Syafrudin.

KLHK sendiri telah menetapkan statussiagakarhutla di Riau sejak Februari 2019.DataKLHK mencatat ada 1.300 hektare lahan terbakar di Riau dan kini sedang dalam proses pendinginan.

Direktur Pengendalian Karhutla KLHK Raffles B Panjaitan menyatakan penanganan di lapangan dilakukan dengan berbagai cara seperti water bombing hingga pemadaman menggunakan air adiktif.

Gunakan Zat Adiktif

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2