Perjuangan Tim Manggala Agni Lawan Karhutla di Bumi Riau
CNN Indonesia
Senin, 11 Mar 2019 10:04 WIB
Selain Pulau Rupat, daerah lain yang terparah mengalami Karhutla adalah Kabupaten Meranti, Bengkalis, dan Dumai.
Di kawasan Batu Bintang, Dumai Barat, lidah-lidah api yang tingginya kira-kira setengah meter di tumpukan sisa lahan sawit masih terlihat di sejumlah titik. Kemudian masih terasa benar abu sisa karhutla saat kami menginjakkan tanah.
Di kawasan Batu Bintang, Dumai Barat, lidah-lidah api yang tingginya kira-kira setengah meter di tumpukan sisa lahan sawit masih terlihat di sejumlah titik. Kemudian masih terasa benar abu sisa karhutla saat kami menginjakkan tanah.
Jika seseorang melangkah, maka abu sisa karhutla akan naik ke atas dan terhirup. Anggota Manggala Agni yang bertugas, Rahmad menyatakan pihaknya sedang melakukan blokade area agar api tidak menyebar.
"Setelah kami blok baru kami padamkan. Kalau lama memadamkannya juga tergantung berapa dalam gambutnya. Biasanya ada sampai yang 2-3 meter ke dalamannya dan kami bisa berhari-hari memadamkannya," ucap Rahmad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rahmad, sejauh ini yang menjadi kendala ialah sumber air yang kurang di musim kemarau dan angin yang terus bertiup.
Bergeser ke arah selatan, kami mengunjungi kawasan Meranti. Di lokasi ini pemadaman api dilakukan dengan cara yang berbeda, yakni menggunakan zak adiktif.
Sebelum disemburkan ke api, para anggota Manggala Agni mencampurkan segentong zat adiktif di pusaran air. Zat ini pula yang akan disemburkan melalui nozzle air.
"Karena ini kebakarannya ada di bawah (bawah gambut). Zat adiktif itu akan menutup rongga-rongga dan pori-pori di permukaan sebagai sumber oksigen api," ujar Jusman.
"Jika tidak ada asap yang muncul ke permukaan dan kita buka sedikit buihnya untuk bahwa kebakaran di bawah ini sudah tidak ada. Baru kita selesai," kata Jusman.
Karhutla Menurun
Raffles mengatakan upaya Manggala Agni dalam memadamkan api di garis terdepan berbuah manis. Dalam catatan KLHK titik hotspot di seluruh Indonesia sudah turun sekitar 24 persen dari tahun lalu di bulan yang sama.
"Penurunan titik hotspot head to head itu bisa sampai 24 persen karena integrasi pencegahan dan penanggulangan yang kita lakukan," ujar Raffles.
Kemudian di periode Januari-Maret 2018 ada 4.277 hektare karhutla dan terakhir pada periode Januari-25 Februari 2019 tahun ini luas karhutla hanya 695 hektare.
"Jadi kalau dikira pemerintah gagal total menangani karhutla saya kira data lah yang menjawab ini semua. Jelas tidak ada karhutla yang hebat seperti yang terjadi tahun 2015," ujar Rafles.