Hal itu berdasarkan survei nasional yang melibatkan 2820 responden yang memiliki hak pilih pada Februari-Maret dengan margin of error plus minus 2 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, isu Jokowi kaki tangan Republik Rakyat China (RRC). Mayoritas responden (69,2 persen) menyatakan tak sepakat, 10 persen lainnya setuju dengan hoaks itu, dan 20,7 persen lainnya tak menjawab atau tidak tahu.
Direktur SMRC Djayadi Hanan. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono) |
"Opini-opini negatif tentang latar belakang Jokowi dan tindakan-tindakannya yang sering muncul di media massa, terutama media sosial, sejauh ini diyakini oleh relatif sedikit warga," ucap Djayadi.
Lewat analisis multivariate SMRC untuk mengetahui dampak relatif kondisi ekonomi, identitas dan mobilisasi identitas serta fake news, ditemukan fakta bahwa fake news lebih terkait dengan pasangan 02.
Menurut survei tersebut, kondisi ekonomi yang positif menaikkan peluang Jokowi-Ma'ruf, sekaligus menurunkan peluang Prabowo-Sandiaga untuk memenangkan pilpres.
Survei ini menemukan bahwa mayoritas masyarakat menganggap kondisi ekonomi nasional tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya (42,3 persen). Sementara, yang menilai lebih buruk sebanyak 18 persen, dan yang menyatakan tak ada perubahan sebesar 29 persen.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
Sebaliknya, isu identitas, hoaks atau fake news menurunkan peluang Jokowi-Ma'ruf dan menaikkan peluang Prabowo-Sandiaga untuk menang.
"Tapi karena fake news dan mobilisasi identitas belum menyentuh secara massif maka peluang 01 belum merosot," kata SMRC.
[Gambas:Video CNN] (arh/sur)
Direktur SMRC Djayadi Hanan. (
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen