BPN Kecam Acara Doa untuk Ma'ruf yang Diduga Memuat Fitnah

CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 09:44 WIB
BPN Kecam Acara Doa untuk Ma'ruf yang Diduga Memuat Fitnah Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01, Ma'ruf Amin menjadi ramai saat keberadaannya di acara doa ratusan ulama di Kemang. Dalam acara tersebut, muncul tudingan zikir di istana hilang, hari santri dihapus jika Ma'ruf Amin kalah. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengkritik keras dugaan kampanye bermuatan fitnah dalam acara doa bersama untuk calon wakil presiden 01 Ma'ruf Amin yang digelar di Kemang, Jakarta Selatan pada Sabtu (16/3) malam. Doa bersama tersebut digelar bertepatan sehari sebelum Ma'ruf Amin menyampaikan visi misinya dalam debat cawapres, Minggu (17/3).

Dalam acara doa bersama yang disebut-sebut dihadiri seratusan ulama itu, muncul narasi ajakan memilih Ma'ruf, karena jika pasangan 01 kalah, tak ada lagi lantunan zikir di Istana Negara, tak ada lagi Hari Santri. Bahkan, salah satu seruan dalam acara itu, NU akan menjadi fosil jika Jokowi-Ma'ruf kalah.

Acara yang terekam lewat potongan video itu kemudian viral, salah satunya diunggah oleh akun twitter @rajapurwa, Senin (18/3) malam. BPN pun merespons peristiwa tersebut dengan kritikan keras.




"Jangan berpikir masih ada tahlil, masih ada zikir di Istana, jangan berpikir masih ada Hari Santri jika Kiai Ma'ruf kalah," ujar seseorang yang menyampaikan doa.

Orang tersebut kemudian mengajak untuk memilih Ma'ruf Amin, sebagai satu-satunya jawaban agar Ahlussunah waljamaah terselamatkan, agar NKRI terselamatkan.

"17 April yang akan datang, semua harus menangkan Kiai Ma'ruf Amin," ujar orang tersebut.

Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN), Ferdinand Hutahaean menyebut apa yang disampaikan dalam video yang beredar tersebut merupakan fitnah. Menurutnya, Ma'ruf Amin harus membuktikan janji dirinya memberantas hoaks seperti yang selama ini ia nyatakan.

"Pak Ma'ruf Amin hadir di acara itu, kami tunggu klarifikasi dari beliau untuk fitnah ini," kata Ferdinand kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/3).

Ferdinand Hutahaean. CNN Indonesia/Hesti Rika



Ferdinand tak habis pikir karena tudingan fitnah dan hoaks justru hadir di hadapan kandidat 01. Ma'ruf, kata Ferdinand, harus membuktikan sumpahnya memberantas hoaks. Ferdinand yang juga politikus Demokrat itu meminta sejumlah pihak turut mengusut dugaan fitnah ini, baik Bawaslu maupun kepolisian.

"Kami pesimis memang (ditindaklanjuti), tapi bagaimanapun ini harus disuarakan," ujarnya. Menurutnya, apa yang disampaikan dalam video tersebut sama halnya dengan kampanye hitam yang dilakukan tiga ibu-ibu di Karawang, yang menyebut Jokowi akan melarang azan dan melegalkan pernikahan sesama jenis jika menang.
(ain)