Bupati Nduga Tunggu Jawaban Jokowi soal Ratusan Pengungsi

CNN Indonesia | Rabu, 20/03/2019 09:20 WIB
Bupati Nduga Tunggu Jawaban Jokowi soal Ratusan Pengungsi Puluhan warga Papua yang tergabung dalam Soladiritas #SaveNduga menggelar aksi damai untuk merespons tindakan kekerasan aparat TNI dan Polri di Kabupaten Nduga, Papua. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bupati Nduga, Papua, Yairus Gwijangge berencana menemui Presiden Joko Widodo untuk membicarakan nasib para pengungsi. Ratusan warga Nduga hingga kini masih menyebar ke beberapa kabupaten sekitar, seperti Jayawijaya, usai konflik pecah di daerahnya.

Yairus mengatakan saat ini sejumlah pengungsi belum kembali ke Nduga. Sebagian adalah anak-anak sekolah yang sementara berada di Jayawijaya. Dia menambahkan pemerintah Nduga, pihak gereja dan sekolah berusaha melobi untuk bertemu presiden terkait pengungsi.

"Setelah jawaban presiden seperti apa, lalu akan putuskan mereka (anak-anak pengungsi) tetap sekolah di sini atau akan kembali ke Nduga," kata Yairus di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, dikutip Antara, Rabu (20/3).


Ia menyampaikan berdasarkan kesepakatan sementara guru, relawan pengungsi dan pihak gereja, ratusan anak-anak Nduga yang kini berada di Jayawijaya tetap bersekolah di Jayawijaya, hingga pemerintah putuskan kapan mereka kembali ke Nduga.


"Presiden setuju atau tidak setuju kita akan sesuaikan setelah kita mengetahui presiden maunya seperti apa, kita mengikuti," ujarnya.

Menurut Yairus, sementara siswa Kelas XIII mengikuti ujian sekolah. Mereka tidak bisa dipindahkan dan tetap mengikuti ujian di Jayawijaya.

"Ujian sudah dimulai, jadi kita tidak minta pindahkan lagi. Tetap lanjutkan ujian di sini," katanya.

Bupati Nduga Akan Temui Jokowi Tanya Nasib Ratusan PengungsiIlustrasi prajurit TNI. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
Sementara itu, Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua menyebutkan sudah menyediakan gedung sekolah untuk digunakan oleh anak-anak pengungsi Nduga di Jayawijaya.

"Jadi fasilitas sekolahnya kami siapkan, tinggal guru dan murid dari Nduga menggunakan sekolah ini," ujarnya.

Jhon mengatakan penggunaan sekolah itu akan dibagi waktunya. Siswa dan guru dari Jayawijaya akan menggunakan sekolah dari pagi hingga siang hari. Setelah mereka pulang, siswa dan guru pengungsi dari Nduga menggunakan sekolah tersebut untuk kegiatan belajar mengajar.


Rentetan peristiwa kontak senjata yang terjadi di Nduga, antara aparat dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) membuat masyarakat setempat trauma. Dilaporkan ada lebih dari 2.000 warga Nduga memilih mengungsi.

Staf Khusus Presiden Kelompok Kerja Papua, Lenis Kagoya sempat meminta 600 prajurit TNI tambahan ditarik kembali dari Kabupaten Nduga. Dia menyampaikan usul tersebut kepada Presiden Joko Widodo.

Namun usulan itu dianggap tak logis oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto. Menurutnya, penugasan personel TNI di Papua, termasuk Nduga, untuk kepentingan keamanan nasional.

Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyari menilai pasukan TNI tak perlu ditarik dari wilayah Nduga, Papua. Menurutnya, tentara masih diperlukan untuk menjaga keamanan di Papua pada umumnya.


[Gambas:Video CNN] (Antara/pmg)