Respons Mahfud, Rektor UIN Minta Pihak Luar Tak Ikut Campur

CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 20:12 WIB
Respons Mahfud, Rektor UIN Minta Pihak Luar Tak Ikut Campur Rektor UIN Jakarta Amany Lubis bersama Wakil Rektor Bidang Admininistrasi Umum Ahmad Rodoni dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Masri Mansoer. (Dok. UIN Jakarta via www.uinjkt.ac.id)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis, membantah ada politik uang dalam pemilihan dirinya sebagai pemimpin kampus yang terletak di Ciputat, Tangerang Selatan tersebut.

"Rektor UIN Jakarta periode 2019-2023 dipilih secara objektif oleh Menteri Agama dan Komite Seleksi dengan  mempertimbangkan kapasitas dan integritas. Rektor UIN Jakarta terpilih sesuai prosedur, legal, dan konstitusional. Dalam pemilihan calon rektor (pilrek) tidak dikenal istilah 'menang-kalah', tapi dipilih Menteri Agama berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 68 Tahun 2015," kata Amany dalam pernyataan resmi yang dikutip dari situs UIN Jakarta, Kamis (21/3).

Atas dasar itu, sambungnya, dalam pemilihan rektor yang telah dilakukan tak ada politik uang (money politics) seperti yang ditudingkan.


"Kepada pihak luar diminta agar tidak turut campur untuk memperkeruh suasana, dan membangun opini negatif terhadap institusi UIN Jakarta. Bila memiliki bukti dugaan pelanggaran atau perbuatan melawan hukum, silakan laporkan kepada penegak hukum," kata Amany.


Ia menegaskan UIN Jakarta memiliki marwah dan reputasi yang harus dijaga semua pihak. Selain itu, sambungnya, UIN Jakarta ingin lebih maju dengan reputasi internasional yang mengedepankan kerja sama dan saling percaya antara pimpinan dan civitas akademika.

"Sesegera mungkin, segala tuduhan dan fitnah yang tidak berdasar dan tidak didasarkan kepada fakta, UIN Jakarta secara institusi akan melakukan tindakan tegas dan berkoordinasi dengan aparat kepolisian," kata Amany.

Sebelumnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengungkap kejanggalan dalam Pilrek UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2019-2023. Dia menyinggung Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin karena tidak melantik sosok yang memenangkan pemilihan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2019-2023, Andi M Faisal Bakti.

"Tahun lalu dia [Andi] ikut pemilihan lagi, menang lagi, tidak dilantik lagi [di] UIN Ciputat," kata Mahfud saat berbicara dalam acara Indonesia Lawyers Club yang ditayangkan langsung tvOne, Selasa (20/3).

Menurut Mahfud, Andi merupakan sosok yang telah dua kali memenangkan proses pemilihan rektor, namun tidak dilantik Lukman. Sebelum menang pemilihan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kata Mahfud, Andi juga tidak dilantik oleh Lukman saat memenangkan pemilihan rektor UIN Alauddin Makassar pada 2014.

Mahfud berkata, Andi tak dilantik sebagai rektor UIN Alauddin Makassar setelah Kemenag membuat aturan yang mensyaratkan rektor UIN setempat wajib tinggal minimal selama enam bulan sebelum menempati jabatan tersebut.

Andi sempat menggugat ke pengadilan dan menang. Putusan pengadilan memerintahkan Lukman melantiknya sebagai rektor. Namun Lukman tetap tidak melantik Andi dan memilih melantik sosok lainnya sebagai rektor UIN Alauddin.

"Saya ajak ke pengadilan, saya bantu, menang di pengadilan [dan] inkrah. Perintah pengadilan harus dilantik. Tapi tidak juga, diangkat rektor lain," kata Mahfud.

Menurut dia, berdasarkan informasi yang dia terima, Andi pernah didatangi seseorang dan diminta uang sebesar Rp5 miliar bila ingin menduduki jabatan rektor.

(kid/sur)