Analisis

Retorika Abstrak Prabowo dan Gaya Normatif Jokowi saat Debat

CNN Indonesia | Senin, 01/04/2019 07:45 WIB
Retorika Abstrak Prabowo dan Gaya Normatif Jokowi saat Debat Dua calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto mengikuti debat capres di Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto tampil ofensif saat berdebat dengan lawannya, capres 01 Joko Widodo di acara Debat Capres keempat, Sabtu (30/3). Retorika Prabowo dinilai masih abstrak, sedangkan Jokowi terbilang normatif.

Pengamat politik Universitas Padjajaran Firman Manan menilai beragam argumentasi Prabowo dalam hal pertahanan dan keamanan belum konkret. Ia mengatakan Prabowo masih beretorika atas gagasannya mengenai sektor pertahanan ke depan.

"Pak Prabowo itu tidak hanya pada debat ini, pada debat sebelumnya memang lebih kuatnya pada retorika dibandingkan dengan agenda kebijakan yang konkret," ujar Firman kepada CNNIndonesia.com, Minggu (31/3).


Firman mencontohkan Prabowo belum konkret ketika menjanjikan kenaikan anggaran pertahanan jika terpilih menjadi presiden periode 2019-2024. Ia menyebut Prabowo hanya mengumbar janji tanpa sama sekali menjelaskan bagaimana anggaran pertahanan bisa ditingkatkan.


Lebih lanjut, Firman tidak mengelak latar belakang Prabowo sebagai prajurit TNI sehingga dia lebih fokus pada isu pertahanan dan keamanan. Akan tetapi, Firman menilai hal itu tak perlu dilakukan Prabowo mengingat tiga tema lain juga perlu mendapat perhatian, yakni ideologi, pemerintahan, dan hubungan internasional.

"Jadi justru latar belakang kemiliteran yang dimiliki itu satu sisi bisa jadi kekuatan, satu sisi bisa jadi kelemahan. Karena akhirnya yang ditangkap orang kok bicaranya soal pertahanan saja," ujarnya.

Selain retorika, Firman menilai emosi Prabowo lebih tampak dibandingkan debat pertama dan kedua. Ia berkata Prabowo memperlihakan sisi tegas dan emosional ketika berdebat dengan Jokowi. Salah satu momen yang memperlihatkan emosi Prabowo menebal, kata dia, ditunjukkan saat Jokowi menilai Prabowo tak yakin dengan TNI.


"Itu kan Pak Prabowo mengatakan lebih TNI dari banyak TNI. Itu yang saya lihat karena memancing emosi membuat tidak fokus pada substansi perdebatan," ujar Firman.

Retorika Absurd Prabowo dan Gaya Normatif Jokowi di DebatCapres nomor urut 02 Prabowo Subianto mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu, 30 Maret 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sementara itu, Firman menilai Jokowi terkesan tampil normatif dalam debat semalam. Namun, ia mengaku tidak terkejut karena petahana secara formula pasti hanya akan mempromosikan hasil kerjanya yang akan dilanjutkan jika terpilih kembali.

"Tapi kalau kita bandingkan memang ada beberapa hal yang lebih konkret di bandingkan Pak Prabowo. Makanya tadi saya bilang Pak Prabowo kekuatannya pada retorika," ujarnya.

Di sisi lain, Firman menilai fokus Prabowo pada tema pertahanan dan keamanan tidak berdampak signifikan secara elektoral. Selain TNI wajib netral, ia berkata anggota keluarga TNI tidak banyak dan terpecah dalam dukungan.

Lebih dari itu, ia justru mengingatkan argumen Prabowo yang mempertanyakan kekuatan, kemampuan, hingga alutsista TNI bisa berdampak negatif bagi elektoral Prabowo. Ia berkata argemen Prabowo tersebut bisa dipersepsikan lain oleh publik.

"Karena seakan-akan mempertanyakan institusi dan sumber daya (TNI)," ujar Firman.

(psp/pmg)