Budi mengakui dalam beberapa waktu terakhir, transportasi massal itu kerap mengalami gangguan.
"Dalam jangka pendek ini saya meminta KAI membuat task force untuk menyelesaikan pekerjaan itu," katanya di Bogor, Kamis (4/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan koordinasikan berapa anggaran dan berapa yang perlu diinvestasikan," tuturnya.
Pertama, fasilitas prasarana pada KRL Commuter Line Jabodetabek sudah berusia lanjut sehingga membutuhkan pembaharuan. Kedua, pengaruh dari cuaca ekstrem yang terindikasi dari peningkatan kekuatan petir hingga dua kali lipat. Ketiga, peningkatan frekuensi penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek.
Selain mengatasi problematika pada KRL Commuter Line, Budi Karya juga menugaskan tim untuk mengidentifikasi dan memberikan solusi lintasan rel pada titik-titik bermasalah. Upaya ini dilakukan sebagai upaya menyambut mudik Lebaran 2019.
"Task force tersebut bertugas untuk identifikasi ulang dan mengerjakan secara cepat," tuturnya.
KRL Anjlok. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Terkait kejadian anjloknya kereta dari Jakarta menuju Stasiun Bogor hingga terguling, Budi menyatakan hal tersebut disebabkan faktor alam penurunan tanah. Insiden ini terjadi di perlintasan Kebon Pedes Bogor sekitar pukul 10.00 WIB, Minggu (10/3).
"Penurunan tanah yang terjadi karena hujan berlebih sehingga sambungan-sambungan itu terjadi penurunan. Cuaca ekstrem berarti perawatannya harus ditingkatkan dan intensif," katanya.
Sebelumnya, pada Rabu (20/2), KRL Commuter Line jurusan Jakarta Kota-Bogor juga mengalami gangguan listrik. Sejumlah warganet menyebut ada suara meletup dan asap. Pihak PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) pun mengakui ada masalah kelistrikan di KRL di Stasiun Lenteng Agung.
Budi Karya menggelar rapat dengan PT KAI dan nPT KCI di Stasiun Bogor, Kamis (4/4). Rapat tersebut bertujuan untuk merumuskan solusi operasional KRL Commuter Line.
[Gambas:Video CNN] (ugo/ulf)
KRL Anjlok. (CNN Indonesia/Andry Novelino)