Jokowi Ingin Rebut Jabar, Kubu Prabowo Ingatkan Hasil Pilkada

CNN Indonesia
Sabtu, 06 Apr 2019 09:49 WIB
Saat pilkada Jabar, pasangan calon yang diusung Gerindra dan PKS diprediksi elektabilitasnya rendah, namun hasil akhir mereka berada di posisi kedua. Capres nomor urut 02 Pilpres 2019, Prabowo Subianto, pada Pilpres 2014 silam berhasil unggul di Jawa Barat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Dewan Pembina Gerindra Mulyadi menyatakan pihaknya tidak gentar dengan klaim capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi). Sebaliknya, kata Mulyadi, justru capres nomor urut 02 Prabowo Subianto akan kembali memenangi suara banyak dari provinsi itu pada Pilpres 2019.

"Saya malah yakin suara jabar akan lebih besar dari [Pilpres] 2014," ucap Mulyadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (5/4).

Mantan Ketua DPD Gerindra Jabar itu menjelaskan anatomi pemilih Prabowo - Sandi di Jawa Barat terdiri atas 4 golongan.


Pertama, yakni pendukung fanatik nan militan paslon nomor urut 02 Prabowo - Sandiaga Uno. Kedua, masyarakat yang mendambakan perubahan. Mulyadi mengatakan golongan ini malah mulanya apatis terhadap politik.


Ketiga, kalangan pendukung paslon nomor urut 02 Jokowi-Ma'ruf Amin yang kecewa lalu mengalihkan dukungan ke Prabowo-Sandi. Kekecewaan tersebut, klaim Mulyadi, lantaran banyaknya janji kampanye Pilpres 2014 dari Jokowi yang tidak terbukti selama masa pemerintahannya.

"Dan membuat kondisi negeri menjadi jauh merosot dibandingkan jaman Pak SBY [Susilo Bambang Yudhoyono]," kata Mulyadi.

Golongan keempat yaitu kalangan anak muda. Menurut Mulyadi banyak golongan milenial yang tertarik dengan Sandiaga Uno, karena menilai dia sebagai sosok muda yang sukses.

Mulyadi mengatakan empat golongan tersebut juga semakin yakin memilih Prabowo-Sandi ketika ada kesan aparat berpihak kepada Jokowi-Ma'ruf.

"Ada indikasi kuat pengkondisian di masyarakat yang mengesankan ada keberpihakkan aparat negara pada petahana dan perlakuan tidak selayaknya pada kegiatan kampanye 02," kata Mulyadi.

Mulyadi yakin dengan klaimnya tersebut. Dia berkaca pada Pilkada Jabar 2018 lalu.

Kala itu, cagub - cawagub yang diusung Gerindra dan PKS, yakni Sudrajat - Ahmad Syaikhu diprediksi tidak memperoleh banyak suara oleh mayoritas lembaga survei. Namun, hasil rekapitulasi final KPU justru tidak sesuai dengan prediksi lembaga - lembaga survei.

Sudrajat - Ahmad Syaikhu memperoleh banyak suara. Mereka berada di posisi kedua di bawah Ridwan Kamil - UU Ruzhanul Umum yang memang diprediksi memenangkan Pilkada.

"Ini malah menjadi pemicu masyarakat Jabar untuk kembali memporakporandakan analis dan lembaga survei serta membungkam arogansi petahana," ujar Mulyadi.


Sebelumnya, capres nomor urut 01 Joko Widodo menginginkan kemenangan di wilayah Jawa Barat pada Pilpres 2019. Dia mengutarakan itu saat berkampanye di Pelabuhan Perikanan Gebangmekar, Gebang, Cirebon, Jumat (5/4).

"Kita juga ingin di Provinsi Jawa Barat kita harus menang. Siapa yang setuju?" tanya Jokowi dijawab setuju oleh ribuan relawan yang hadir di lokasi kampanye akbar.

Jokowi lantas sedikit merinci target perolehan suara di beberapa wilayah di Jawa Barat. Dia menargetkan suara di atas 75 persen di wilayah Kabupaten Indramayu. Target serupa juga dipatok di wilayah Kabupaten dan kota Cirebon.

"Di catatan saya, di Kabupaten Cirebon kita mendapatkan 61 persen (pada) 2014. Tahun 2019, kita ingin di Cirebon di atas 75 (persen)," ujar Jokowi.

Pada Pilpres 2014 silam, Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) kalah dari Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa dalam perolehan suara di Jawa Barat.

Kala itu, rekapitulasi final KPU menyatakan Prabowo-Hatta di provinsi itu meraih 14.167.381 (59,78 persen) suara, sementara Jokowi-JK mendapat 9.530.315 (40,22 persen). Total suara sah di Jabar pada Pilpres 2014 adalah 23.697.696.


[Gambas:Video CNN] (bmw/kid)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER