SERBA-SERBI

Mengintip Debat TKN-BPN dengan Gaya Oxford Inggris

CNN Indonesia | Sabtu, 06/04/2019 04:41 WIB
Mengintip Debat TKN-BPN dengan Gaya Oxford Inggris Ilustrasi panggung debat. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok alumni Universitas Oxford, Inggris, yang tergabung dalam The University of Oxford Society of Indonesia menghelat debat dengan tema antikorupsi. Peserta debat antara lain perwakilan timses Jokowi - Ma'ruf melawan Prabowo - Sandi.

Mekanisme debat tidak seperti debat capres - cawawapres yang diadakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pula, berbeda dengan acara silat pendapat di program televisi pada umumnya.

President The University of Oxford Society of Indonesia Rio Yovian Haminoto mengatakan debat yang diselenggarakan pihaknya menggunakan gaya Oxford. 


"Memang menggunakan Oxfrod Union Style," kata Rio usai acara di Graha Bimasena, Jakarta, Jumat (5/4).

Tim Kampanye Nasional (TKN) dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) sama - sama mengirim empat orang perwakilan. TKN menghadirkan Budiman Sudjatmiko, Dini Purwono, Agus P Sari, dan Rio Haminoto. BPN mengirim Sudirman Said, Bambang Widjajanto, Ledia Hanifa, dan Dirgayuza Setiawan.
Para perwakilan diberi waktu untuk bicara selama 7 menit. TKN dan BPN sama - sama mengirim 4 orang. Dengan begitu,  8 orang diberikan waktu 7 menit untuk bicara secara bergantian.

Mereka bebas mengutarakan pemikirannya namun harus sesuai dengan tema yang telah ditentukan, yakni antikorupsi.

Budiman, dari TKN, mendapat kesempatan pertama. Dilanjut oleh Sudirman Said dari BPN. Begitu seterusnya.

Masing-masing peserta debat boleh mengajukan interupsi pada satu menit terakhir. Akan tetapi, pihak yang tengah berbicara memiliki hak untuk menolak memberikan waktu bicara kepada lawan yang menginterupsi. Semacam diskresi yang dimiliki pembicara.

"Mau enggak diinterupsi. Kalau mau, dikasih setengah menit," kata Rio.

CNNIndonesia.com berkesempatan menyaksikan langsung debat tersebut. Acara berjalan penuh khidmat. Seluruh tamu undangan yang hadir, dari berbagai kalangan, begitu serius memperhatikan para pembicara di atas panggung.
Meski begitu, bukan berarti suasana tidak cair. Para tamu undangan juga acap kali tergelak ketika ada sindiran-sindiran selama debat berlangsung. Mereka juga tidak sungkan memberikan apresiasi kepada pembicara yang dianggap mengesankan dalam beretorika.

Tidak ada tamu undangan yang membuat keributan selama debat berlangsung. Para peserta debat pun tidak ada yang saling serobot untuk mendapat kesempatan bicara. Semuanya nampak teratur.

Dalam debat tersebut, TKN dinyatakan sebagai pemenang oleh dewan juri. Rio mengatakan kemenangan TKN didasari oleh penilaian para dewan juri. Indikatornya antara lain substansi, lalu cara masing-masing tim mengartikulasikan pemikirannya, dan merespon perdebatan.

"Jadi sama sekali bukan didasari pilihan politik. Lebih ke teknik debat," tutur Rio.

Dewan juri terdiri dari berbagai kalangan akademisi. Pula seorang peneliti antikorupsi ternama.

Mereka adalah mantan menteri pertambangan dan energi dan mantan Sekjen OPEC Subroto, CEO Daya Dimensi Global Andi Wibisono, CEO Daya Dimensi Indonesia Yuri Yogaswara, pendiri Linda Widyawati & Pusponegoro Lawfirm Arisia Pusponegoro, lalu peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Tama Langkun.

Rio mengaku senang. Dia mengaku acara berjalan di luar ekspektasi.

"Saya sangat tersentuh karena yang kita undang, dari tim capres 01 dan 02 sangat bersemangat," kata Rio.
Selain itu, tamu yang hadir juga melampaui ekspektasi. Rio mengatakan target tamu yang hadir hanya 70-80 orang. Akan tetapi, dia mendapati ruangan debat dipenuhi oleh 208 orang dan 20 orang di antaranya merupakan siswa SMA.

Rio mengatakan baru kali ini kelompok alumni Oxford mengadakan acara debat dan mengundang perwakilan masing-masing timses peserta pilpres. The University of Oxford Society of Indonesia tidak mengadakan debat pada Pilpres 2014 lantaran baru dibentuk 2018 lalu.

Dia berharap bisa kembali mengadakan acara serupa. Tentu dalam rangka menularkan budaya debat ala Oxford untuk memajukan Indonesia.

"Kita ingin berusaha untuk memasarkan sebuah tradisi di mana kalau ada perbedaan pemikiran tentu kita bisa menang. Bisa selalu bersama dan juga membawa perbedaan itu untuk kebaikan negara kita," kata Rio.
[Gambas:Video CNN] (ugo/ugo)