Sebanyak 400 ribu amplop yang jadi barang bukti kasus Bowo Sidik, hanya sebagian. Menurutnya ada 600 ribu amplop serangan fajar yang disiapkan Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Jawa dan Kalimantan Golkar Nusron Wahid.
Bahkan, kata Saut, 400 ribu amplop yang disita dari kliennya itu juga disiapkan atas permintaan Nusron.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata Saut, amplop serangan fajar itu akan dibagikan kepada masyarakat di daerah pemilihan di mana Bowo Sidik dan Nusron Wahid mencalonkan diri sebagai anggota DPR yakni di Jawa Tengah II. Dapil II Jateng meliputi daerah Kudus, Jepara, Demak.
"Tidak benar," kata Nusron kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat.
Sementara itu Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Golkar, Dave Akbarshah Laksono menegaskan partainya secara institusi tak pernah memerintahkan atau mengeluarkan kebijakan bagi para kadernya untuk menggunakan taktik politik jual-beli suara (money politics) dalam Pemilu 2019.
(CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Tidak ada perintah atau kebijakan dari partai golkar untuk melakukan money politics. Partai Golkar selalu mendukung demokrasi yang sehat, sehingga kita melarang seluruh elemen parpol, kader untuk melakukan money politics," kata Dave saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (10/4).
OTT tersebut terkait pelaksanaan kerja sama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia dengan PT Humpuss Transportasi Kimia.
Dalam OTT itu Bowo ditangkap bersama dengan Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti dan karyawan PT Inersia, Idung, serta lima orang lainnya.
KPK mengamankan barang bukti berupa uang sekitar Rp8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu yang telah dimasukkan dalam amplop-amplop di sebuah kantor di Jakarta.
"Pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu dimasukkan ke dalam amplop-amplop pada 84 kardus," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan pada Kamis (28/3).
Dalam kasus ini Basaria menyebut Bowo diduga mengumpulkan uang dari sejumlah sejumlah penerimaan-penerimaan terkait jabatan yang dipersiapkan untuk 'serangan fajar' pada pemilu 2019.
(wis/wis)
(CNN Indonesia/Andry Novelino)