Sosok Ibu Nurjanah Versi Sandi Masih Menuai Perdebatan

CNN Indonesia | Minggu, 14/04/2019 14:01 WIB
Sosok Ibu Nurjanah Versi Sandi Masih Menuai Perdebatan Sandiaga Uno saat debat terakhir menyinggung nama-nama warga seperti Ibu Nurjanah, Ibu Mia, dan Rahman sebagai contoh kasus yang dia temui saat blusukan kampanye Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Suhendra Ratu Prawiranegara menegaskan bahwa sejumlah nama yang disebut Sandi dalam debat pilpres 2019 semalam bukan rekaan semata.

Suhendra mengatakan, nama-nama seperti Nurjanah dan Rahman yang disebutkan Sandi merupakan contoh warga yang merasakan langsung kondisi ekonomi di Indonesia.

"Tidak ada rekaan atas pernyataan Pak Sandi tentang orang-orang tersebut. Mereka adalah contoh warga negara yang mengalami fenomena sosial ekonomi saat ini. Kehidupan serba susah dan sulit, barang dan harga kebutuhan pokok mahal," ujar Suhendra kepada CNNIndonesia.com, Minggu (14/4).

Dalam debat Pilpres 2019, Sabtu (13/4) malam, Sandi memang kembali menyebut nama emak-emak yang ditemuinya. Kali ini nama Ibu Nurjanah yang disebut Sandi mengeluhkan dagangan di pasar kian sepi pembeli.


Hal ini dilontarkan Sandi ketika mengkritik kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjebak di angka lima persen.

Menurut Suhendra, Sandi tak mungkin berbohong atas sejumlah nama warga yang ia sebutkan saat sesi debat tersebut.

"Sangat berisiko jika Pak Sandi menyampaikan tidak berdasarkan testimoni dari rakyat," katanya.
Sosok Ibu Nurjanah, Mia dan Rahman Versi Sandi Masih MisteriSandiaga saat debat memamerkan e-KTP sebagai kartu sakti andalan yang diproyeksikan bisa multifungsi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Suhendra justru mempertanyakan pernyataan Jokowi tentang pemahaman ekonomi makro dan mikro yang disampaikan capres nomor urut 01 itu dalam debat. Suhendra menduga Jokowi tak memahami maksud ekonomi makro dan mikro tersebut.

"Pemerintah harusnya paham dan jalankan teori maupun cabang ilmu ekonomi apapun terkait pengelolaan ekonomi negara. Semua harus dijadikan rujukan. Jangan-jangan Pak Jokowi sendiri tidak paham?" ucap Suhendra.

Sementara itu juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, menduga nama-nama yang disebut Sandi itu sekadar rekaan. Namun, menurut Ace, Sandi mestinya memahami bahwa untuk menyusun sebuah kebijakan publik tak bisa didasarkan pada pengakuan subjektif segelintir orang.

"Yang namanya kebijakan publik itu harus berdasar pendekatan identifikasi masalah secara umum. Berdasarkan persoalan masyarakat secara keseluruhan, bukan orang per orang," kata Ace.

Penyelesaian masalah yang dihadapi masyarakat, lanjut Ace, mestinya dapat dilakukan melalui survei, uji publik, atau observasi langsung.

"Sehingga solusinya tidak parsial tetapi komprhensif, karena itu pendekatannya harus langsung seperti Pak Jokowi yang suka blusukan sejak sebelum jadi presiden," ujarnya.

Dalam debat pilpres, Sandi memang beberapa kali menyebut sejumlah nama warga. Selain Nurjanah, ia juga menyebut nama Rahman dan Ibu Mia.

Pada debat cawapres sebelumnya, Sandi juga menyinggung sosok warga Sragen, Jawa Tengah bernama Ibu Lis.

Sandi menyebut Ibu Lis merupakan salah seorang warga yang mengidap kanker namun biaya kesehatannya tidak dibayar BPJS Kesehatan.


(psp/gil)