KPK Dalami Informasi dari Rekan Perempuan Bowo Sodik

CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 05:00 WIB
KPK Dalami Informasi dari Rekan Perempuan Bowo Sodik Bowo Sidik Pangarso keluar dari Gedung Merah Putih KPK dengan mengenakan rompi oranye setelah diperiksa oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jakarta, Kamis 28 Maret 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung melakukan pemeriksaan terhadap wanita yang ikut diamankan saat Operasi Tangkap Tangan (OTT) mantan politikus Golkar Bowo Sidik Pangarso, Siesa Darubinta. Juru Bicara KPK Febri Diasnyah mengatakan terdapat dua hal yang didalami penyidik dalam proses pemeriksaan Siesa Darubinta.

"Pertama terkait dengan pengetahuan dari saksi ini tentang keberadaan tersangka BSP (Bowo Sodik Pangarso) di apartemen pada saat itu, sejauh mana pengetahuaannya itu diklarifikasi oleh penyidik," ujar Febri di gedung KPK, Jakarta, Senin (15/4).

Kemudian, penyidik juga bertanya atau mendalam lebih lanjut sejauh maana pengetahuan dari saksi terkait dengan informasi aliran dana. Siesa diperiksa sebagai saksi kasus untuk tersangka Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asty Winasti. Ia diperiksa penyidik kurang lebih 6 jam.


Usai diperiksa, Siesa yang ditemani kuasa hukumnya langsung berjalan keluar dari lobi Gedung KPK, sekitar pukul 16.35 WIB, Senin (15/4). Ia memilih terus berjalan meski awak media berdiri di hadapannya. Siesa tak menggubris pertanyaan yang dilontarkan wartawan.


Siesa keluar dengan mata agak sembab dan langsung menerobos kerumunan awak media. Ia terus menjauh dari markas antirasuah dan langsung naik ke dalam mobil yang menjemputnya.

Diketahui, Siesa sempat ikut diamankan saat operasi tangkap tangan pada (27/3). Dia ikut diamankan bersama dengan sopir Bowo Sidik di sebuah apartemen milik Bowo Sidik.

Bowo bersama Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti dan Indung, sebelumnya ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka suap kerja sama distribusi pupuk PT PILOG dengan PT HTK. Bowo diduga meminta komisi kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$2 per metric ton.


Ada enam kali penerimaan yang diduga telah terjadi sebelumnya di sejumlah tempat sebesar Rp221 juta dan US$85.130. KPK mengendus Bowo juga menerima uang di luar kasus dugaan suap kerja sama distribusi pupuk. Tim KPK kemudian menemukan uang sejumlah Rp8 miliar di Kantor PT Inersia, perusahaan milik Bowo.

Uang sekitar Rp8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu telah dimasukkan dalam amplop-amplop. Uang yang berada dalam 400 ribu amplop itu tersebut diduga bakal digunakan Bowo untuk 'serangan fajar' Pemilu 2019.

(sas/ain)