Qutb adalah pemikir dan aktivis Ikhwanul Muslim dari Mesir yang divonis hukuman mati karena tuduhan percobaan kudeta pada Agustus 1966.
Said mengutarakan hal tersebut dalam seminar bertema 'Memperteguh Semangat Kebangsaan dalam Bingkai NKRI' di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Selasa (16/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Said mengatakan bahwa pemikiran antinasionalisme di Indonesia tumbuh dalam Gerakan Tarbiyah di kampus-kampus. Gerakan Tarbiyah tersebut mengkaji pemikiran Sayyid Qutb.
Qutb kemudian menelurkan tafsiran mengenai jahiliyah. Menurut Said, tafsiran Qutb cenderung baru kala itu.
Dalam tafsir Qutb, jahiliyah bukan suatu keadaan yang primitif atau terbelakang. Menurut Sayyid, jahiliyah adalah sistem politik yang tidak Islami.
"Komunisme, kapitalisme, sosialisme, nasionalisme. Termasuk jahiliyah. Baru ada seorang yang punya terminologi baru soal jahiliyah," kata Said.
Said mengatakan tidak ada kampus di Indonesia yang tidak terpapar Gerakan Tarbiyah kecuali Universitas Nahdlatul Ulama dan Universitas Muhammadiyah.
"Ini kelompok kajian di UI, ITS, Undip, ITB, IPB ada semua itu. Ada yang besar ada yang kecil. Mengkaji bukunya Sayyid Qutb tadi yang membahas sistem yang bukan Islami," ucap Said.
"Ini nanti jebolannya ini, mohon maaf, masuk ke BUMN, PLN, Telkom, Telkomsel kementerian-kementerian negara," lanjutnya.
Unsur antinasionalisme di dalam kementerian dan BUMN pernah mencuat ketika Ketua Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara, awal Januari lalu.
"Misalnya di ASN itu sudah banyak kelompok-kelompok pengusung khilafah itu yang pengen negara lain selain Indonesia masuk di sana. Di pejabat teras BUMN juga sudah banyak," kata Gus Yaqut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (11/1).
Yaqut tak merinci pejabat teras dari BUMN mana saja yang bergabung ke kelompok pengusung khilafah. Dia juga tak menyebut kelompok-kelompok yang disebutnya mengusung ideologi khilafah.
Namun dia mengaku mengatakan telah melaporkan hal tersebut ke Presiden Jokowi dan meminta ketegasan Presiden menindak orang-orang itu. (bmw/wis)