Mahfud MD Cegah Golput: Kita Memilih Manusia, Bukan Malaikat

CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 19:40 WIB
Mahfud MD Cegah Golput: Kita Memilih Manusia, Bukan Malaikat Mantan ketua MK Mahfud MD di Jakarta, Senin (15/16). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengimbau kaum milenial tak golput dan tetap memilih pada Pemilu 2019 meski tak ada yang sempurna. Yang mesti dipertimbangkan, katanya, adalah kandidat yang paling banyak kebaikannya.

Ia mengingatkan bahwa tidak ada sosok yang sempurna. Mahfud meminta kalangan milenial tak terpaku dalam konteks idealisme pemimpin. Namun, memilih yang terbaik di antara calon pemimpin yang ada.

Hal ini disampaikan Mahfud di tengah bincang bersama para milenials di sebuah restoran di kawasan Jakarta Pusat, Senin (15/4).


"Kita memilih manusia bukan malaikat, jadi tinggal hitung saja berapa kilogram baiknya, itu yang dipilih," kata Mahfud.

"Kalau ada yang bilang 'saya enggak akan milih. Itu rugi. Anda memilih dan tidak memilih, pemimpin baru akan lahir," imbuh dia.

Di tempat terpisah, dukungan terhadap golput pun disuarakan sejumlah pihak.Di tempat terpisah, dukungan terhadap golput pun disuarakan sejumlah pihak. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
"Karena itu saya sepakat dengan Romo Frans [Magnis] mengatakan memilih pemimpin bukan menentukan orang baik dan ideal. Yang penting adalah menghindarkan orang yang tidak baik," lanjutnya.

Mahfud menyarankan agar kaum muda menggunakan media sosial yang ada untuk mengecek latarbelakang calon pilihannya. Jika salah satu calon legislatif tidak ingin menampilkan informasi tentang dirinya, maka calon tersebut perlu dipertanyakan.

"Jadi pilih aja yang terang-terangan yang mau menampilkan informasi dirinya. Jika yang ditutup-tutupi, ini yang susah. Dengan komunikasi digital zaman sekarang bisa dicek kok dengan platform yang ada," tegas dia.
Terakhir, Mahfud mengatakan tak ada salahnya kaum muda berdiskusi dengan komunitas yang mampu memberikan informasi lebih kepada pemilih muda untuk menentukan pilihannya.

"Tidak dilarang untuk diskusi. Yang paling penting sudah memutuskan untuk memilih. Karena kita tahu pemilih milenial hampir 51 juta orang dan ini sangat banyak jumlahnya," tutup dia.

Terpisah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak warga negara yang punya hak pilih untuk menyukseskan pemilu dengan cara tidak golput.

Ketua PBNU Said Aqil Siroj.Ketua PBNU Said Aqil Siroj. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
"Karena itu, kepada seluruh warga negara yang telah memenuhi syarat, Nahdlatul Ulama mengimbau agar tidak golput," ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj dalam tausiyah kebangsaan di Gedung PBNU, Senin (15/4).

Hal itu ditegaskan oleh Said telah tertuang dalam musyawarah nasional PBNU di Nusa Tenggara Barat (NTB), 17 November 1997. Bahwa pemilu dalam negara demokrasi adalah bentuk prinsip musyawarah di dalam Islam yang mengikat dan sah.

"Gunakan hak pilih dengan nalar dan nurani untuk memilih calon presiden, wakil presiden serta calon-calon wakil rakyat DPD, DPR, DPRD, yang memenuhi kriteria profetik shidiq, tabligh, amanah, dan fathanah," imbuhnya.

Tak sekadar mengimbau warga agar tidak golput, dalam kesempatan itu PBNU juga mengajak penyelenggara pemilu untuk menjamin hajatan besar tiap lima tahun ini terlaksana adil, jujur, dan bersih. Said meminta agar mereka tidak berkompromi dengan politik uang.

Terakhir, PBNU mengajak peserta pemilu dan para pendukungnya untuk menciptakan suasana damai. Kalaupun hasil pemilu sudah keluar, mereka meminta setiap pihak untuk legowo.

"Jika merasa keberatan terhadap hasil pemilu, maka menggunakan prosedur dan mekanisme konstitusional yang tersedia, sebagaimana ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," pungkas Said.

Sejumlah aktivis menyuarakan golput akibat dari kedua kubu capres terdapat pihak-pihak yang diduga terlibat kasus pelanggaran HAM baerat.Sejumlah aktivis menyuarakan golput karena dari kedua kubu capres memiliki pihak-pihak yang diduga terlibat kasus pelanggaran HAM berat. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Sebelumnya, lembaga survei Indo Barometer menyatakan angka golput di atas 40 persen dapat menggagalkan kemenangan pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.

Meskipun, pasangan ini masih unggul dengan gap 18,8 persen dari pasangan Prabowo Subainto-Sandiaga Uno.

Ini terjadi karena pendukung Prabowo-Sandi lebih solid dalam menyalurkan dukungannya.

[Gambas:Video CNN] (CTR/bin)