Ironi Warga Kampung Akuarium Pakai Hak Pilih di Tanah Gusuran

CNN Indonesia | Rabu, 17/04/2019 16:02 WIB
Ironi Warga Kampung Akuarium Pakai Hak Pilih di Tanah Gusuran Warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara menyalurkan suaranya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. (CNN Indonesia/Ulfa Arieza).
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah kondisi prihatin pascapenggusuran, warga Kampung Akuarium tetap menggunakan hak pilihnya dalam momentum pemilihan umum anggota legislatif dan pemilihan presiden 2019, Rabu (17/4).

Para warga beramai-ramai ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang didirikan di atas tanah lapang bekas gusuran tempat tinggal mereka sendiri. Ada dua TPS yang disediakan, yaitu TPS 033 dan TPS 040 yang lokasinya berdekatan.

Dharma Diani (42) selaku koordinator warga Kampung Akuarium tidak menampik jika sebagian warga trauma dengan janji-janji manis calon pemimpin. Kendati demikian, mereka harus tetap optimis memperjuangkan tempatnya bernaung hidup.


"Kalau kami pesimis mau golput atau menganggap demokrasi tidak penting, terus kami mau cari harapan baru kemana. Akhirnya warga jadi memiliki semangat demokrasi yang baru melihat visi misi pemimpin yang baru," kata Dharma kepada CNNIndonesia.com.


Ia melanjutkan pengalaman pahit warga kehilangan tempat tinggalnya, membuat mayoritas dari mereka kehilangan kepercayaan pada calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi).

Pada 2012 silam, ketika Mantan Walikota Solo itu mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. ia membuat kontrak politik dengan warga. Isinya, Jokowi berjanji tidak akan menggusur Kampung Akuarium jika terpilih menjadi orang nomor wahid di Ibu Kota.

Lalu, ketika melenggang pada bursa capres 2014, ia kembali mengumbar janji akan memberikan sertifikat tanah kepada warga Kampung Akuarium yang sudah menempati wilayah itu selama 20-25 tahun.

Sayangnya, janji tinggal janji belaka. Pada 2016, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi, menggusur warga Kampung Akuarium. Rumah yang telah mereka tempati puluhan tahun pun rata dengan tanah.


"Warga sudah pernah dikecewakan dengan pemimpin yang lalu. Karena ada pilihan yang lain mereka berusaha lagi untuk menaruh harapan itu kepada pemimpin baru," imbunya.

Tokoh masyarakat Kampung Akuarium Teddy menambahkan warganya menaruh harapan akan nasib mereka pada pemimpin baru. Kendati demikian, pria berusia 50 tahun ini tidak menggantungkan seluruh kepercayaannya pada elite politik. Toh, ia pernah melakukan hal serupa lantas berakhir kecewa.

Ia menuturkan di tengah kekecewaan warga Kampung Akuarium, partai yang mengusung capres Prabowo Subianto datang membantu mereka. Sebaliknya, Jokowi yang mereka dukung pada 2012 dan 2014 seolah balik badan.

"Saking trauma dan tidak percaya, kami bangun kepercayaan baru dan dengan bukti selama ini yang membantu dan komunikasi dengan masyarakat mereka-mereka ini, partai ini," katanya.


Kenang Pesta Demokrasi 2014

Di tengah gempitnya pesta demokrasi ini, warga Kampung Akuarium mengenang kembali pesta demokrasi empat tahun silam. Kala itu sebagian besar warga mempercayakan suaranya kepada Jokowi yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

"Dulu di sini kami selalu mendukung ia (Jokowi) 100 persen. Dari ia jadi Gubernur DKI Jakarta, Presiden kami selalu dukung. Setelah didukung kok kami malah disia-siakan," kata Maesaroh (42), salah satu warga Kampung Akuarium.

Sayangnya, setelah menjadi orang nomor satu di Indonesia, Jokowi dinilai warga melupakan janjinya. Pada April 2016, ketika warga digusur Jokowi sama sekali tidak memberikan bantuan.

Ibu empat orang anak ini mengingat penderitaannya ketika rumahnya diratakan dengan tanah. Meski telah disediakan rumah susun bagi warga terdampak yakni di Rusun Marunda, Rusun Rawa Bebek dan Rusun Cipinang, ia mengaku tetap bertahan di Kampung Akuarium lantaran dekat dengan tempat dagangnya.

[Gambas:Video CNN]

"Kami terpaksa tidur di tenda selama sebulan," tuturnya.

Hal serupa dialami Teddy. Ia dan keempat anaknya terpaksa tidur di tenda darurat bersama dengan puing-puing bangunan. Bahkan, tidak jarang ketika malam hari kaki mereka digigit tikus karena kondisi tenda yang memprihatinkan.

"Dalam dua tahun ada 24 warga yang meninggal, rata-rata karena sakit tinggal di bekas penggusuran. Mereka juga memikirkan nasibnya setelah digusur," katanya.

Tidak hanya merenggut tempat tinggalnya, penggusuran itu juga membuat Teddy dan beberapa warga lainnya kehilangan pekerjaan. Ia berprofesi sebagai tukang mebel. Saat penggusuran, petugas juga menghancurkan alat-alatnya untuk bekerja. Akibatnya, hingga kini ia masih menganggur.


Beruntungnya, Teddy masih memiliki tabungan yang digunakan untuk menopang kebutuhan sehari-harinya. Padahal, rencananya tabungan itu akan digunakan untuk biaya kuliah anak-anaknya.

"Kebetulan kami bisa menabung 20 tahun untuk anak-anak sekolah, tapi setelah penggusuran tabungan itu digunakan untuk makan sehari-hari," jelasnya. (ulf/lav)