"Saya tidak yakin akan ada mobilisasi massa," kata Arsul saat ditemui di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (17/4).
Sebelumnya politikus PAN Amien Rais pernah menyatakan akan mengerahkan people power jika timnya menemukan kecurangan pada penyelenggaraan Pemilu 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arsul berkata kecurangan bisa saja memang terjadi. Namun yang perlu dilakukan adalah menyikapinya sesuai aturan atau lembaga yang telah dibentuk.
"Kan salurannya sudah ada. Tetapi kami tidak melihat sebuah ketidakteraturan yang TSM, terstruktur sistematis dan masif, itu tidak ada," kata dia.
Hitung cepat Litbang Kompas dengan total data masuk 87,75 persen hingga pukul 19.59 WIB mencatat Jokowi-Ma'ruf meraih 54,49 persen suara, Prabowo-Sandi 45,51 persen.
Sementara quick count Indo Barometer dengan total data masuk 93,67 persen mencatat Jokowi-Ma'ruf meraih 54,35 persen dan Prabowo-Sandi 45,65 persen.
Jokowi-Ma'ruf juga unggul berdasarkan quick count dari LSI Denny JA dengan total data masuk 97,45 persen. Paslon nomor urut 01 itu meraih 55,38 persen dan Prabowo-Sandi 44,62 persen.
Arsul menekankan TKN Jokowi-Ma'ruf akan memfokuskan untuk mengawasi proses perhitungan suara mulai dari TPS hingga tingkat pusat.
Hal itu bertujuan agar suara yang diterima Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019 tak hilang akibat kesalahan yang bersifat teknis maupun dugaan kecurangan.
"Tentu kami mengawal dulu di TPS setelah itu di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, tentu nanti berujung di KPU. Itu proses-proses yang memang harus kami kawal," kata dia. (rzr/wis)