Pemantau Pemilu Asing: Indonesia Seharusnya Bangga

CNN Indonesia | Rabu, 17/04/2019 23:31 WIB
Pemantau Pemilu Asing: Indonesia Seharusnya Bangga Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemantau pemilu yang berasal dari negara lain atau pemantau asing memuji penyelenggaraan Pemilu 2019 pada 17 April 2019.

Kepala Media dan Komunikasi Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia, John Nickell, menyampaikan pengalamannya berkeliling ke beberapa TPS hari ini.

"Ini momen fantastis bagi Indonesia dan ini momen bagi orang Indonesia seharusnya bangga terhadap praktik demokrasi yang sukses dan damai," kata John dalam jumpa pers Election Visit Program yang digelar KPU di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (17/4).


John menyatakan kagum karena Indonesia bisa menggelar lima jenis pemilu secara serentak. Ia menyebut Pemilu 2019 sangat menantang dan Indonesia berhasil menjawab tantangan.

Dia juga menyampaikan pemilu di Indonesia sangat besar dan rumit. Satu-satunya negara yang bisa menyaingi Pemilu 2019 Indonesia adalah India yang memiliki 900 juta pemilih.

"India menyelenggarakannya sebulan, Indonesia melakukannya dalam enam jam. Jadi, ini hal yang sangat luar biasa," ujar dia.

Di kesempatan sama, Penasihat Duta Besar Rusia untuk Indonesia Veronica Novoseltseva mengapresiasi KPU atas transparansi Pemilu 2019.

"Kita menyaksikan pemungutan suara di TPS lokal di mana masyarakat umum memperlihatkan minat tinggi, partisipasi, dan cara penghitungan suara diadakan secara transparan," ujarnya.

KPU menyelenggarakan Election Visit Program untuk menghadirkan 208 orang pemantau dari luar negeri. Program ini telah dilakukan sejak Pemilu 2004.

Tercatat ada perwakilan dari Kedutaan Besar Pakistan, Malaysia, Singapura, Jerman, Amerika Serikat, Sri Lanka, Inggris, Uni Eropa, Jepang, Denmark, Finlandia, Selandia Baru, Swiss, Belanda, Irlandia, Belgia, Australia, Prancis, Polandia, Norwegia, Kanada, Swedia, Ethiopia, Mozambik, Somalia, Nigeria, Zimbabwe, Rusia, Hungaria, Italia, Filipina serta Brunei Darussalam.

Sementara penyelenggara pemilu atau KPU dari negara lain yang ikut adalah Union Election Commission of Myanmar, Election Commission of Malaysia, National Electoral Commission of Timor Leste, Department of Elections Sri Lanka, Election Commission of Bhutan, Election Commission of Nepal, Central Election Commission of Uzbekistan, Election Commission of Pakistan, Election Commission of Russia, Election Commission of Bangladesh, Election Commission of Afghanistan.

Lalu NGO internasional yang ikut adalah International Federation for Electoral Systems (IFES), Asian Network for Free Elections (ANFREL), Association of World Election Bodies (WEB), United States Agency for International Development (USAID), International Republican Institute (IRI), National Democratic Institute (NDI), World Bank Group dan World Bank.

NGO dalam negeri antara lain Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Indonesia Corruption Watch (ICW), Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Indonesian Parliamentary Center (IPC), Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) serta Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA Penca). (dhf/wis)