Misi Alumni 212-#2019GantiPresiden Dinilai Gagal Gerus Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 18/04/2019 18:58 WIB
Misi Alumni 212-#2019GantiPresiden Dinilai Gagal Gerus Jokowi Capres 01 Joko Widodo. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kubu pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno dinilai menjalankan banyak misi selama Pilpres 2019 berjalan. Khususnya di masa kampanye dan kampanye terbuka.

Narasi-narasi yang dilempar ke publik pun disinyalir untuk mengikis elektabilitas capres petahana Joko Widodo.

Misalnya gerakan #2019GantiPresiden yang diotaki Politikus PKS Mardani Ali Sera. Kemudian, Presidium Alumni 212 mengadakan dua kali reuni, yakni pada 2 Desember 2017 dan 2 Desember 2018. Tidak ketinggalan, pelbagai wacara  Jokowi keturunan PKI, anti-Islam, prokomunis, dan gemar mengkriminalisasi ulama.


Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai semua misi yang ditempuh Prabowo dan timnya itu tidak mujarab. Menurutnya, hal itu terbukti dari quick count atau hitung cepat mayoritas lembaga survei yang menyatakan Jokowi-Ma'ruf Amin unggul sementara dari Prabowo-Sandi.

Bahkan, kata Adi, perolehan suara Prabowo-Sandi versi quick count kali ini lebih rendah dibanding rekapitulasi KPU Pilpres 2014 silam.


Diketahui, Prabowo memperoleh 46,85 persen suara pada 2014 lalu. Sementara quick count Pilpres 2019 versi Litbang Kompas, Prabowo mendapat 45,57 persen, Indo Barometer 45,68 persen, Median 45,5 persen berdasarkan 99 persen data yang masuk, Kamis (18/4).

Hasil quick count itu semakin menguatkan anggapan bahwa narasi yang dimainkan kubu Prabowo-Sandi selama ini tidak efektif meningkatkan elektabilitas calon yang diusung.

"Enggak ada artinya. Enggak berguna. Strategi tidak efektif. Dibandingin 2014 lalu, justru defisit 2 persen suara," kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (18/4).

Adi lalu menyoroti perolehan suara Prabowo-Sandi di Jawa Tengah. Adi mengingatkan kembali narasi-narasi yang pernah dilontarkan bahwa Prabowo-Sandi bertekad merebut banyak suara di Jawa Tengah.

Namun, Prabowo justru diprediksi memperoleh suara lebih sedikit di Jawa Tegah dibanding Pilpres 2014. Hal itu tak lepas dari hasil quick count pilpres tahun ini, paslon nomor urut 02 itu keok di 'kandang banteng'.


Quick count Indo Barometer menyebut Prabowo-Sandi memperoleh 21,49 persen. Versi Litbang Kompas, mereka mendapat 23,45 persen. Angka-angka itu lebih kecil dibandingkan hasil rekapitulasi KPU Pilpres 2014. Prabowo saat itu memperoleh 33,35 persen di Jawa Tengah.

"Artinya, strategi perang menggempur basis lawan tidak efektif. Di Jateng, suara Jokowi justru semakin menebal," ucap Adi.
Misi Alumni 212 dan #2019GantiPresiden Gagal Gerus JokowiCapres nomor 02 Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Tiara Sutari).

Keyakinan Publik ke Jokowi 

Bercermin dari hal tersebut, Adi menganggap sebagian masyarakat memang tidak melahap mentah-mentah setiap narasi Prabowo dan timnya. Tuduhan soal Jokowi doyan mengkriminalisasi ulama, anti-Islam, dan keturunan PKI tidak bisa menggoyang keyakinan masyarakat atas kinerja pemerintah.

"Yang paling penting adalah faktor kepuasan publik soal kinerja. Digoyang pakai isu apapun, tetap yakin Jokowi," kata Adi.

Soal kampanye #2019GantiPresiden, Adi mengamini publik sempat menyambut ketika gerakan itu mencuat. Begitu banyak kalangan yang antusias terutama mereka yang kecewa dengan pemerintahan Jokowi.

Apalagi ketika kubu Prabowo membuat lagu dengan judul #2019GantiPresiden. Seolah semakin banyak pihak yang merasa terwadahi untuk menyuarakan kekecewaan.

Akan tetapi, gerakan #2019GantiPresiden tidak berumur panjang. Adi menyebut gerakan tersebut hanya bertahan di masa sebelum kampanye terbuka dimulai. Masyarakat lebih sering memerhatikan sikap dan pernyataan Prabowo atau Jokowi selama kampanye terbuka. Dengan demikian, #2019GantiPresiden menjadi diabaikan. Tidak semasif sebelumnya.

"Ketika masuk masa kampanye, sudah enggak populer, karena lebih menyukai apa yang diucapkan atau sikap-sikap Jokowi dan Prabowo," tutur Adi.


Adi kemudian menyoroti gerakan-gerakan yang dimotori Alumni 212. Dia sepakat jika kegiatan yang mereka galang selama ini bertujuan untuk mengikis elektabilitas Jokowi. Salah satunya yakni dengan Reuni 212 yang dipenuhi narasi-narasi kurang mengenakkan tentang pemerintah.

Adi mengamini massa yang hadir dalam Reuni 212 di Monas selalu banyak. Akan tetapi, Adi mengatakan massa yang hadir tidak pernah bertambah. Dia mengatakan massa Alumni 212 cenderung eksklusif. Seolah hanya untuk kalangan muslim dan penentang mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Oleh karena itu, kelompok lain yang juga kecewa dengan pemerintah, enggan bergabung dan menyuarakan aspirasi bersama Alumni 212.

"Massa 212 itu itu saja. Enggak bertambah dan enggak berkurang. Mengerikan memang, tapi hanya itu-itu saja," kata Adi.

"Alumni 212 hanya bermain di kubangan sendiri. Kelompok lain yang main isu keberagaman, kesetaraan gender, pengusutan HAM tidak bisa masuk. Sungkan karena 212 dibangun atas sentimen tertentu pada Pilkada 2017," tegasnya.

[Gambas:Video CNN] (bmw)