Mayat dalam Ember di Tangerang Sudah Terbengkalai 1,5 Bulan

CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 17:42 WIB
Mayat dalam Ember di Tangerang Sudah Terbengkalai 1,5 Bulan Ilustrasi. (Istockphoto/D-Keine)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasat Reksrim Polres Tangsel AKBP Alexander Yurikho mengatakan mayat dalam ember yang ditemukan Minggu (21/4) di samping kolong jembatan Cisadane, Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan, Tangerang Selatan, sudah berusia 1,5 bulan sejak waktu tewas.

Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan labolatorium forensik. "Jadi sudah berbentuk kerangka, bahkan kepala yang terpisah dari badan rangkanya pun sudah berbentuk tengkorak, dagingnya sudah tidak ada semua," kata Yurikho saat dikonfirmasi, Selasa (22/4).

Kasat Reksrim Polres Tangsel AKBP Alexander Yurikho mengatakan mayat tersebut pertama kali ditemukan oleh saksi bernama Sarno saat tengah mencari kroto (makanan burung) di sekitar lokasi sekitar pukul 11.00 WIB.


Saksi kemudian menemukan sebuah bulatan berwarna hitam yang dikira merupakan buah kelapa. Namun, setelah dicek, ternyata bukan buah kelapa, melainkan tengkorak kepala manusia.

"Kemudian saksi melihat tidak jauh dari tengkorak kepala terdapat badan lengkap dengan tangan dan kaki dengan badan dengan keadaan sebagian besar telah menjadi tulang dan ada yang sebagian masih ada daging dalam keadaan membusuk," tuturnya.

Yurikho menuturkan atas penemuan tersebut pihaknya kemudian membawa mayat tersebut ke laboratorium forensik untuk dilakukan pemeriksaan.

Dari hasil forensik, kata Yurikho, diperkirakan bahwa mayat tersebut sudah 1,5 bulan sejak waktu meninggalnya.

Kemudian dari hasil forensik juga tidak ditemukan tanda kekerasan pada mayat tersebut. Disampaikan Yurikho, terpisahnya kepala dengan badan bukan karena mutilasi, melainkan proses yang terjadi secara alami.

Apalagi, menurut Yurikho, lokasi ditemukannya mayat tersebut merupakan area yang tergenang air saat keadaan hujan atau saat air sungai pasang.

"Kalau mutilasi pasti akan ada bekasnya, pasti akan ada traumanya, pasti akan ada yang bisa dilihat dari proses pemeriksaan medis forensik," ucap Yurikho.

Yurikho menuturkan dari pakaian yang dikenakan oleh korban, kemungkinan besar yang bersangkutan merupakan seorang tuna wisma. Hal itu, kata Yurikho, salah satunya terlihat dari sandal rakitan yang digunakan oleh korban.

"Sandal yang kami dapatkan adalah sandal hasil rakitan, jadi ditali, gitu kan, dirakit-rakit, kanan kiri pun beda," ujarnya.

Lebih lanjut, Yurikho mengatakan sampai saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab meninggalnya korban tersebut.

Polisi juga masih berusaha mencari identitas dari korban. Karenanya, pihak kepolisian menyebar ciri-ciri korban untuk mempermudah proses pencarian identitas.

"Dengan bantuan babinkamtibmas dan masyarakat, kita beritahukan ciri-cirinya ini, sampai sekarang belum ada masyarakat yang melapor atau mencoba mencari tahu itu siapa," tuturnya. (dis/wis)