Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan labolatorium forensik. "Jadi sudah berbentuk kerangka, bahkan kepala yang terpisah dari badan rangkanya pun sudah berbentuk tengkorak, dagingnya sudah tidak ada semua," kata Yurikho saat dikonfirmasi, Selasa (22/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian saksi melihat tidak jauh dari tengkorak kepala terdapat badan lengkap dengan tangan dan kaki dengan badan dengan keadaan sebagian besar telah menjadi tulang dan ada yang sebagian masih ada daging dalam keadaan membusuk," tuturnya.
Dari hasil forensik, kata Yurikho, diperkirakan bahwa mayat tersebut sudah 1,5 bulan sejak waktu meninggalnya.
Apalagi, menurut Yurikho, lokasi ditemukannya mayat tersebut merupakan area yang tergenang air saat keadaan hujan atau saat air sungai pasang.
"Kalau mutilasi pasti akan ada bekasnya, pasti akan ada traumanya, pasti akan ada yang bisa dilihat dari proses pemeriksaan medis forensik," ucap Yurikho.
Yurikho menuturkan dari pakaian yang dikenakan oleh korban, kemungkinan besar yang bersangkutan merupakan seorang tuna wisma. Hal itu, kata Yurikho, salah satunya terlihat dari sandal rakitan yang digunakan oleh korban.
"Sandal yang kami dapatkan adalah sandal hasil rakitan, jadi ditali, gitu kan, dirakit-rakit, kanan kiri pun beda," ujarnya.
Lebih lanjut, Yurikho mengatakan sampai saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab meninggalnya korban tersebut.
"Dengan bantuan babinkamtibmas dan masyarakat, kita beritahukan ciri-cirinya ini, sampai sekarang belum ada masyarakat yang melapor atau mencoba mencari tahu itu siapa," tuturnya. (dis/wis)