Wiranto Sebut 139 Petugas Pemilu Meninggal saat Bertugas

CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 15:29 WIB
Wiranto Sebut 139 Petugas Pemilu Meninggal saat Bertugas Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto usai mengikuti sidang kabinet paripurna, di Istana Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/4). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebut ada 139 petugas pemilu yang meninggal selama pelaksanaan Pemilu 2019. Wiranto mengajak masyarakat memberikan penghargaan pada mereka alih-alih mencaci maki.

"Kita harusnya memberikan penghargaan dan apresiasi pada KPU, Bawaslu, dan petugas keamanan yang telah melakukan pekerjaan besar dan berat. Sampai saat ini sudah ada 139 orang yang meninggal," ujar Wiranto di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Rabu (24/4).

Wiranto menyayangkan sikap sejumlah pihak yang menuding kecurangan pada pemerintah dan KPU serta Bawaslu sebagai penyelenggara pemilu.


"Sangat tidak tepat kalau melakukan fitnah, cacian, dan membuat tuduhan menyedihkan yang tidak berdasar," katanya.

Ia mengatakan pelaksanaan pemilu tahun ini yang terbesar dan terumit dunia. Pasalnya, pemilih harus memilih lima sektor dalam waktu satu hari yakni presiden, DPR, DPD, dan DPRD tingkat kabupaten/kota.

Wiranto pun meminta kepada semua pihak agar turut mengawal proses perhitungan suara yang saat ini masih dilakukan KPU.

"Untuk melanjutkan keterbukaan dan kenetralannya, KPU telah melakukan penghitungan secara transparan yang perkembangannya dapat diakses setiap saat," ucapnya.

Sebelumnya, KPU pada Selasa (23/4) petang mencatat ada 119 petugas KPPS meninggal dunia saat bertugas dalam penyelenggaraan pemilu.

"Berdasarkan data yang kami himpun hingga pukul 16.30 WIB, petugas kami yang mengalami kedukaan ada 667 orang. Sebanyak 119 meninggal dunia, 548 sakit, tersebar di 25 provinsi," kata Komisioner KPU Viryan saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (23/4).

Pada hari yang sama anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar di tempat berbeda mengatakan ada 33 orang panitia pengawas pemilu (Panwaslu) yang juga gugur saat bertugas.

Petugas pemilu yang tewas disebabkan beragam hal. Faktor utamanya adalah kelelahan. Viryan berkata sistem menyerentakkan lima jenis pemilu sangat baik bagi sistem presidensial. Namun, beban kerja untuk petugas di lapangan begitu berat.

Pemilu serentak yang merenggut banyak korban jiwa langsung direspons dengan dorongan evaluasi sistem pemilu.

Penyelenggaraan Pemilu 2019 yang serentak antara pileg dan pilpres menimbulkan beragam masalah, salah satunya ratusan petugas KPPS meninggal dunia akibat kelelahan bekerja. Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun diminta harus segera dilakukan secepatnya, tak perlu ditunda-tunda.

Eks Komisioner KPU, Hadar Nafis Gumay menilai evaluasi terhadap Pemilu 2019 harus betul-betul dikaji secara rinci. Terutama misalnya sistem pemilu yang masih banyak kekurangan dari sisi teknis.

Menurut Hadar, sistem pemilu dengan begitu banyaknya calon tentu hanya akan menambah beban kerja para penyelenggara pemilu, khususnya para petugas di TPS dan petugas penghitungan suara.

"Kalau memang kesimpulannya beban kerja berat ini karena sistem pemilu yang terlalu rumit, kita ubah sistemnya," katanya.

"Sistem yang sekarang membuat kita harus memilih banyak calon. Jadi misalkan calonnya diturunkan dari 12 atau 10 menjadi 6 calon saja. Itu kan dapat mengubah struktur surat suara dan mengurangi beban kerja penyelenggara," ujar Hadar.
[Gambas:Video CNN] (psp/wis)