Ia harus bekerja selama 24 jam lebih hingga harus sakit dan dirawat inap. Belum lagi tudingan kecurangan yang kerap dilontarkan membuat Tursina trauma menonton berita di televisi.
Tursina merupakan salah satu petugas yang sakit usai melakukan penjagaan dan penghitungan di TPS dekat tempat tinggalnya. Selama empat hari Tursina harus dirawat inap di rumah sakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu ia belum benar-benar merasakan sakit. Dia mulai merasakan sakit di hari ketiga setelah pencoblosan. Saat itu dia sudah tidak kuat lagi berdiri dan membuka matanya.
"Ke UGD langsung, begitu ditensi 180/110 dan di situ muntah, mual, banyak pikiran, asam lambung naik," ujarnya.
Testimoni Tursina Maya atas penyelenggaraan Pemilu 2019. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor). |
Tekanan yang Begitu Tinggi
Tursina mengakui beban pikiran dan psikologis yang ditanggung sangat berat. Saat penghitungan suara, dia merasakan tekanan yang begitu tinggi ketika menentukan sah atau tidaknya surat suara. Mengingat, penghitungan suara disaksikan langsung saksi-saksi dari para peserta pemilu yang hadir di TPS.
"(Beban psikologis) Pas penghitungan yang pressure itu menentukan sah atau tidak sahnya," tuturnya.
"Kita sebagai KPPS menjalankan tugas dengan baik berharap tidak ada pemilu ulang, karena sudah capek banget kita. Ke depannya mudah-mudahan seperti 2014, (pemilu) dipisah ya," tuturnya.
Selain soal pemilu ulang, Tursina juga sedih dengan maraknya isu kecurangan Pemilu 2019 yang dihembuskan sejumlah pihak. Dia merasa rasa letihnya selama bertugas tidak dihargai sama sekali atas berhembusnya isu dugaan kecurangan tersebut.
Karenanya, selama masa pemulihan hingga hari ini dia memilih menutup akses informasi maupun pemberitaan untuk menghindari stres yang berlebihan.
"Kita sudah capek kerja, masih dibilang curang. 2019 ini luar biasa banget isu-isu itu, makanya saya jarang nonton TV, sudah santai saja enggak mau pusing. Yang penting saya sudah jalankan tugas, TPS saya aman, bagus semua," ujar Tursina.
[Gambas:Video CNN] (gst/osc)
Testimoni Tursina Maya atas penyelenggaraan Pemilu 2019. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor).