"Saya kira Jakarta mampu menjadi kota bisnis ya. Dengan anggaran dan pendapatan yang memadai, saya kira bisa saja," kata Yani saat dihubungi, Selasa (30/4).
Selain dengan anggaran dan pendapatan, alasan Jakarta dinilai Yani bisa ditinggal sebagai ibu kota karena sudah memiliki sistem transportasi dan infrastruktur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Atau Malaysia kan ada di KL [Kuala Lumpur] dan Putra Jaya. Maksud saya, ibu kota zaman sekarang tidak bisa melakukan dua fungsi sekaligus, harus terpisah," jelas dia.
Berdasarkan data yang Jokowi punya, jumlah penduduk di Pulau Jawa mencapai 57 persen dari total populasi di Indonesia. Lalu, jumlah penduduk di Pulau Sumatra mencapai 21 persen.
Sementara itu, jumlah penduduk di Pulau Kalimantan hanya sekitar 6 persen, Pulau Sulawesi 7 persen, dan Papua serta Maluku 3 persen.
Selain tingkat kepadatan, Jokowi mengaku ingin memindahkan ibu kota negara karena permasalahan di DKI Jakarta kian meningkat dari hari ke hari.
Jokowi menyoroti banjir dan kemacetan. Bahkan, keduanya kerap memberikan kerugian kepada kota metropolitan itu.
Data pemerintah menyatakan kerugian akibat macet mencapai Rp65 triliun per tahun pada 2013. Lalu, 50 persen wilayah Jakarta sudah masuk kategori rawan banjir, penurunan permukaan air laut sekitar 7,5 sentimeter per tahun, hingga 96 persen air sungai di Jakarta tercemar berat. (ctr/end)