Sebar Provokasi People Power, Dosen Pascasarjana Minta Maaf

CNN Indonesia | Sabtu, 11/05/2019 04:20 WIB
Sebar Provokasi People Power, Dosen Pascasarjana Minta Maaf Dosen Pascasarjana asal Bandung minta maaf sebar hoaks people power. (CNN Indonesia/Huyogo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Solatun Dulah Sayuti (55) tak mengira dirinya bakal ditangkap penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat.

Dosen pascasarjana di salah satu perguruan tinggi di Bandung itu ditangkap karena diduga menyebarkan ujaran kebencian perihal people power terkait pemilu 2019 di Facebook, Kamis (9/5) malam.

Solatun mengaku tidak berniat menyebar kebencian dan membuat gaduh. Namun, unggahan statusnya di Facebook pada Kamis pagi dianggap telah meresahkan masyarakat. Ia menuliskan status di Facebook yang mengomentari people power.


"Harga Nyawa Rakyat jika people power tidak dapat dielak: 1 orang rakyat ditembak oleh polisi harus dibayar dengan 10 polisi dibunuh mati. Menggunakan pisau dapur, golok, linggis, kapak, kunci roda mobil, siraman tiner cat berapi dan keluarga mereka," tulisnya di akun Facebook.


People power sendiri merupakan gerakan yang didengungkan pertama kali oleh politikus senior Amien Rais. Amien mengatakan people power akan dilakukan jika diketahui ada kecurangan dalam pemilu 2019. 

"Saya berharap agar tidak sampai terjadi yang namanya pembenturan polisi dengan rakyat," kata Solatun menerangkan maksud status di akun Facebook-nya di Mapolda Jabar, Jumat (10/5).

Sebelum menuliskan status, pria kelahiran Cilacap itu mendapat dua kiriman berupa berita tertulis dan video di grup Whatsapp.

"Saya sudah menunjukkan video tersebut kepada bapak-bapak (polisi). Saya hanya takut itu terjadi, tidak ada niat lain demi Allah," ujarnya.


Dia menguraikan informasi dari video menyebutkan bahwa kesiapan polisi sekian pucuk senjata per sektor, per resort dan seterusnya. Kemudian, kata dia, ada rasionalisasi kalau ketika ada benturan polisi dengan rakyat maka 1 banding 10.

"Kira-kira gambarannya demikian karena kalimatnya panjang sekali saya ikut membaca saja," katanya.

Solatun mengakui perbuatannya menyebar informasi keliru tersebut salah. Untuk menunjukkan dirinya khilaf, Solatun mengatakan malu telah menyebarkan imformasi tersebut. Sebagai dosen, dia pun meminta maaf atas kasusnya.

"Saya berani bersumpah, jika Tuhan mau menutup kepala saya dengan batu sebesar bumi, saya siap. Saya salah, kepada mahasiswa saya selalu ajarkan untuk melakukan cek ricek sebelum posting, tapi saya sendiri tidak melakukan itu. Saya mengakui kesalahan saya," ujarnya.

"Saya dosen pascasarjana, maafkan jika ini membuat kegaduhan," tambahnya.


Dosen Sekaligus Caleg dari PBB

Selain dosen, Solatun juga merupakan calon legislator (caleg) DPR RI. Hal itu tampak dari unggahannya di Facebook.

Namun bukan caleg dari Jabar, Solatun justru caleg dari daerah pemilihan (dapil) Jateng VIII nomor urut 5 wilayah Cilacap-Banyumas.

Berdasarkan penelusuran gambar di Facebook Solatun, terlihat ada foto Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra.

Solatun juga menambahkan keterangan pada foto berupa, "ass.ww. Semoga pemilu besok kemenangan menjadi milik Ummat Muslim. Jika saya ditakdirkan harus menang, silahkan tagih karena nadzar saya akan shodaqohkan gaji saya 25% utk partai, 75% untuk masjid yg memerlukan di CILACAP BANYUMAS," tulisnya dalam unggahan yang diunggah Solatun pada 16 April 2019."

Situs independen yang menampilkan profil caleg, jariungu.com, juga menerangkan bahwa Solatun maju sebagai calon legislator di dapil Jawa Tengah 8. Dalam profilnya, Solatun disebutkan bekerja sebagai dosen dengan pendidikan terakhir S3.

[Gambas:Video CNN]
(hyg/DAL)