Ibu Korban Mei 98: Mamak Tak Niat Nangis Le, tapi Ingat Kamu

CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 10:31 WIB
Ibu Korban Mei 98: Mamak Tak Niat Nangis Le, tapi Ingat Kamu Murni (57) memanjatkan doa untuk anaknya yang merupakan korban tragedi 98 di Mall Klender. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski tak berniat meratapi kehilangan, keluarga korban tragedi kerusuhan Mei 1998 di Mall Klender, Jakarta Timur tetap mengenang anggota keluarganya. Tujuannya adalah mengingatkan pemerintah agar menuntaskan pekerjaan rumah yang sudah tertunda selama 21 tahun: penyelesaian kasus.

Murni (57), ibunda dari korban kerusuhan 98 Agung Tripurnawan, berjalan di depan Mall Klender dengan menggenggam bunga merah di tangannya. Diiringi oleh keluarga korban lainnya yang membawa spanduk tuntutan penyelesaian kasus 98 ini, ia menaburkan bunga di sepanjang jalan berlapis paving block di halaman parkir Mall Klender, Senin (13/5).

Setelah helai bunga terakhir jatuh dari tangannya, Murni, yang mengenakan kerudung hitam panjang, mulai mengangkat dua tangannya dan memanjatkan doa.


"Mamak selalu doa, le, untuk kamu peringatin bulan Mei 98, 13 Mei. Mamak selalu doa untuk kamu, le, mamak enggak dilupakan sama kamu, le, mamak enggak niat untuk nangis, le," tuturnya.

"Mamak ngerti kamu enggak mau ditangisin. Mamak enggak niat nangis, le, selalu doa untuk peringatin kamu. Tidak lupa di manapun mamak selalu ingat untuk kamu, le," Murni menambahkan.

Keluarga korban menyiapkan bunga beserta foto anggota keluarganya yang sudah tiada.Keluarga korban menyiapkan bunga beserta foto anggota keluarganya yang sudah tiada. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Dia adalah salah satu keluarga korban yang ikut dalam peringatan 21 tahun tragedi kemanusiaan itu. Bersama mereka hadir pula Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Amnesty International Indonesia (AII), Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), dan Paguyuban Mei 1998.

Menurut pantauan CNNIndonesia.com, para keluarga korban berkumpul di depan Mall Klender, atau yang dahulu dikenal dengan Yogya Plaza, pada pukul 07.30 WIB. Perwakilan KontraS Dimas Bagus Arya mengatakan agenda tersebut merupakan agenda rutin tiap tahun untuk mengenang korban dan menghormati keluarga korban Mei 1998.

"Salah satu acaranya adalah memperingati peristiwa ini dengan melakukan Napak tilas atau proses tabur bunga yang akan dilakukan di area dalam mall," katanya saat berorasi di depan Mall Klender.

Dimas juga mengatakan sudah 21 tahun peristiwa Mei 1998. Namun, kata dia, negara sampai saat ini belum melakukan penuntasan kasus ini secara maksimal. Padahal, katanya, hasil penyelidikan Komnas HAM sudah dikirimkan ke Kejaksaan Agung. Namun, Korps Adhyaksa belum menuntaskan tugasnya selama 21 tahun ini.

"Negara belum melakukan penuntasan secara maksimal, belum ada mekanisme keadilan yang dibentuk negara sampai 21 tahun meskipun penyelidikan sudah dilakukan Komnas HAM," ucap dia.

Setelah berorasi, Dimas mengajak para keluarga korban untuk berdoa bersama dan menabur bunga di halaman parkir Mall Klender.

Ibu Korban 98: Mamak Tak Niat Nangis Le, Mamak Selalu IngatFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Para keluarga korban juga berharap agar pemerintah bertanggung jawab untuk menyelesaikan peristiwa Mei 1998 serta tidak akan terulang lagi peristiwa seperti Mei 1998.

"Pemerintah harus bertanggung jawab kepada keluarga korban, karena keluarga korban ini menanti agar kasus 98 diselesaikan," kata Maria Sanu, Ibunda Stevanus Sanu, korban peristiwa Mei 1998.

"Harapannya yang terbaik, jangan sampai terulang kembali," Murni menimpali.

Selain berdoa dan menabur bunga di Mall Klender. Para korban juga akan melanjutkan menabur bunga di Taman Pemakaman Umum Pondok Ranggon. TPU Pondok Ranggon sendiri merupakan pemakaman massal korban Tragedi Mei 1998.

Kerusuhan di Yogya Plaza terjadi 14 Mei 1998. Tragedi ini merupakan salah satu titik terparah dalam insiden 98.

Ketika itu, ratusan orang menjarah mal dan mengambil berbagai barang. Nahas, mereka terkurung di dalam diduga karena ada pembakaran oleh oknum dan pintu keluar pun dikunci. Orang-orang yang berada di dalam pun tidak memiliki pilihan selain terjun dari lantai atas atau mati terpanggang di dalam gedung.

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kemudian dibentuk untuk menyelidiki kasus tersebut. Tim yang dipimpin oleh Marzuki Darusman dari Komnas HAM ini pun merekomendasikan negara agar ada pertanggungjawaban hukum bagi para pelaku serta pemulihan dan memberikan kompensasi kepada para korban. TGPF juga mencatat ada 488 jiwa yang meninggal dunia dalam insiden Mall Klender itu.

[Gambas:Video CNN] (sas/arh)