Murni (57), ibunda dari korban kerusuhan 98 Agung Tripurnawan, berjalan di depan Mall Klender dengan menggenggam bunga merah di tangannya. Diiringi oleh keluarga korban lainnya yang membawa spanduk tuntutan penyelesaian kasus 98 ini, ia menaburkan bunga di sepanjang jalan berlapis paving block di halaman parkir Mall Klender, Senin (13/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mamak ngerti kamu enggak mau ditangisin. Mamak enggak niat nangis, le, selalu doa untuk peringatin kamu. Tidak lupa di manapun mamak selalu ingat untuk kamu, le," Murni menambahkan.
Keluarga korban menyiapkan bunga beserta foto anggota keluarganya yang sudah tiada. (CNNIndonesia/Safir Makki) |
Menurut pantauan CNNIndonesia.com, para keluarga korban berkumpul di depan Mall Klender, atau yang dahulu dikenal dengan Yogya Plaza, pada pukul 07.30 WIB. Perwakilan KontraS Dimas Bagus Arya mengatakan agenda tersebut merupakan agenda rutin tiap tahun untuk mengenang korban dan menghormati keluarga korban Mei 1998.
"Salah satu acaranya adalah memperingati peristiwa ini dengan melakukan Napak tilas atau proses tabur bunga yang akan dilakukan di area dalam mall," katanya saat berorasi di depan Mall Klender.
"Negara belum melakukan penuntasan secara maksimal, belum ada mekanisme keadilan yang dibentuk negara sampai 21 tahun meskipun penyelidikan sudah dilakukan Komnas HAM," ucap dia.
Setelah berorasi, Dimas mengajak para keluarga korban untuk berdoa bersama dan menabur bunga di halaman parkir Mall Klender.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
"Pemerintah harus bertanggung jawab kepada keluarga korban, karena keluarga korban ini menanti agar kasus 98 diselesaikan," kata Maria Sanu, Ibunda Stevanus Sanu, korban peristiwa Mei 1998.
"Harapannya yang terbaik, jangan sampai terulang kembali," Murni menimpali.
Selain berdoa dan menabur bunga di Mall Klender. Para korban juga akan melanjutkan menabur bunga di Taman Pemakaman Umum Pondok Ranggon. TPU Pondok Ranggon sendiri merupakan pemakaman massal korban Tragedi Mei 1998.
Ketika itu, ratusan orang menjarah mal dan mengambil berbagai barang. Nahas, mereka terkurung di dalam diduga karena ada pembakaran oleh oknum dan pintu keluar pun dikunci. Orang-orang yang berada di dalam pun tidak memiliki pilihan selain terjun dari lantai atas atau mati terpanggang di dalam gedung.
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kemudian dibentuk untuk menyelidiki kasus tersebut. Tim yang dipimpin oleh Marzuki Darusman dari Komnas HAM ini pun merekomendasikan negara agar ada pertanggungjawaban hukum bagi para pelaku serta pemulihan dan memberikan kompensasi kepada para korban. TGPF juga mencatat ada 488 jiwa yang meninggal dunia dalam insiden Mall Klender itu.
[Gambas:Video CNN] (sas/arh)
Keluarga korban menyiapkan bunga beserta foto anggota keluarganya yang sudah tiada. (
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi